logo


Indonesia, 'Medan Perang' Baru bagi Raksasa Teknologi China dan AS

Meningkatnya pasar digital Indonesia telah menjadi medan perang bagi perusahaan AS dan China, dimana raksasa teknolgi yang berasal dari kedua negara terus menyuntikkan investasi senilai jutaan dolar ke sejumlah perusahaan start-up yang ada di Indonesia.

1 Desember 2020 17:09 WIB

Bundaran HI
Bundaran HI kumparan

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Perusahaan-perusahaan teknologi asal China dan Amerika Serikat dikabarkan tengah bersaing untuk dapat menguasai pasar digital Indonesia, dengan menyuntikkan dana investasi ke sejumlah perusahaan unicorn yang ada di tanah air. Sejumlah kesepakatan bahkan telah ditandatangani pada beberapa bulan belakangan ini, meskipun perekenomian tengah mengalami kontraksi akibat pandemi Covid-19.

"Indonesia, secara spesifik, adalah negara dengan populasi internet terbesar ke-empat di dunia, dan memiliki banyak perusahaan start-up teknologi yang menarik," kata Pinn Lawjindakul, Wakil Presiden Lightspeed Venture Partners Singapura kepada South China Morning Post pada Senin (30/11).

"Investasi di Indonesia ini merupakan sinyal pentingnya negara ini dan perusahaan-perusaahan teknologi global terus mengawasinya," tambahnya.


Belum Resmi Jadi Presiden AS, Joe Biden Sudah Dapat Undangan untuk Hadiri KTT NATO

"Lebih banyak perusahaan internasional akan memasukkan investasinya kesana (Indonesia), yang akan mendorong pengembangan inovasi dan mencetak banyak perusahaan start-up baru. Ini adalah waktu yang sangat tepat bagi para pemilik modal dan investor (untuk berinvestasi) di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan," lanjutnya.

Menurut data Bank Dunia, prosentase penggunaan internet di Indonesia yang memiliki 267.7 juta penduduk terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2019 lalu, 47.7% penduduk Indonesia telah memiliki akses internet, dimana pada tahun 2018 lalu hanya 39.9% dan 32.3% pada tahun 2017.

Menurut pantauan SCMP, perusahaan-perusahaan AS seperti, Uber, lebih memilih untuk mengikuti jejak perusahaan teknologi asal China dalam hal pemilihan negara yang akan menjadi sasaran investasi mereka, daripada mencoba peruntungan dengan membuka pasar baru. Pada tahun 2018, Uber menjual seluruh asetnya di Asia Tenggara kepada Grab, sebagai gantinya, mereka mendapat 27.5% saham di perusahaan tersebut.

Pada 3 November lalu, Raksasa teknologi AS, Microsoft, telah mengumumkan kerja sama strategis dengan perusahaan e-commerce Bukalapak, dalam pembangunan sebuah infrastruktur cloud sistem yang akan mendukung layanan Bukalapak pada lebih dari 12 juta UMKM dan lebih dari 100 juta pelanggan.

Sementara itu, Google bekerjasama dengan Temasek, rencananya akan menyuntikkan investasinya kepada Tokopedia, salah satu saingan terberat Bukalapak. Menurut Asia Nikkei, Google memegang 1.6 persen atau senilai USD 1.1 juta sementara Temasek memegang 3.3 persen saham senilai USD 2.37 juta.

Softbank Group Jepang menjadi pemegang saham terbesar di Tokopedia dengan 33.9% diikuti oleh Alibaba Group dengan 28.3%.

Perusahaan e-commerce asal AS, Amazon juga tak ingin tinggal diam. Mereka mengatakan akan membangun sebuah pusat data di Jawa Barat senilai USD 2.8 miliar, untuk mendukung layanan 'cloud-computing' mereka.

Pada bulan lalu, raksasa teknologi China, Huawei, juga telah menandatangani sebuah MoU dengan BPPT untuk mengembangkan teknologi AI, cloud-computing, dan proyek pengadaan jaringan 5G.

Sebelumnya, pada awal tahun 2020 ini, Paypal dan Whatsapp sudah lebih dahulu menyuntikkan investasi mereka kepada Gojek. Menurut Reuters, Facebook mengakuisisi 2.4 persen saham Gojek, sementara Paypal memegang 0.6% saham Go-Pay. Gojek sendiri juga telah mendapatkan sejumlah investasi dari Google, Tencent dan JD.com. Menurut TechCrunch, kesepakatan tersebut bernilai sekitar USD 1.2 miliar.

Go Online, Ini pentingnya Web Toko Online untuk Bisnis Anda

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia