logo


PKB: Tindakan Ali Kalora Cs Bertentangan dengan Ajaran Islam

Fakta ini harus disikapi secara serius oleh setiap pemangku kepentingan untuk tidak membiarkan bibit terorisme berkembang dengan terus memoderasi cara beragama

30 November 2020 21:07 WIB

Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Cucun Ahmad Syamsurijal.
Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Cucun Ahmad Syamsurijal. galamedianews.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Ketua Fraksi PKB DPR, Cucun Ahmad Sjamsurijal mengatakan kasus pembunuhan sekeluarga yang diduga dilakukan kelompok Ali Kalora di Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), menjadi bukti jika bibit terorisme atas nama agama masih ada.

Cucun menegaskan bahwa fakta ini harus disikapi secara serius oleh setiap pemangku kepentingan untuk tidak membiarkan bibit terorisme berkembang dengan terus memoderasi cara beragama.

"Kami mengutuk aksi kejam Ali Kalora Cs di Sigi. Kami meminta semua kalangan tidak lengah karena kelompok radikalis dan teroris masih ada di sekitar kita,” kata Cucun di Jakarta, Senin (30/11/2020).


Lockdown dan Konten Online Bermuatan Ekstrim Tingkatkan Paham Radikal di Inggris

“Kami juga mendesak agar pemerintah terus berkampanye pentingnya moderasi cara beragama dari tingkatan paling kecil yakni keluarga," imbuhnya.

Cucun menjelaskan tindakan Ali Kalora Cs dengan membunuh empat orang yang masih satu keluarga jelas tidak dibenarkan, apalagi jika alasan pembunuhan tersebut atas nama perbedaan agama.

Menurutnya tindakan Ali Kalora jelas aksi terorisme yang bertujuan memunculkan ketakutan di kalangan masyarakat.

"Jelas tindakan Ali Kalora Cs bertentangan dengan ajaran agama Islam, maka perilaku itu jelas tidak pernah dibenarkan di hadapan hukum positif maupun hukum Islam itu sendiri," tegasnya.

Cucun mengatakan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat jika bibit terorisme masih ada di Indonesia. Pemerintah harus terus maju dalam upaya penanggulangan bibit terorisme tersebut.

Menurutnya pemerintah harus bisa bergandeng tangan dengan pemuka agama, ormas, hingga lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama untuk mengkampanyekan bahaya radikalisme.

"Radikalisme dan terorisme selalu berawal dari cara pandang intoleran yang biasanya muncul dari cara beragama yang sempit dan jumud. Oleh karena itu perlu terus dilakukan kampanye perlunya moderasi cara beragama di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang memang secara sunnatullah beragam," katanya.

Irak Peringatkan Aktifitas ISIS Meningkat Belakangan Ini

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar