logo


Mantan Kepala CIA Minta Iran Tunggu Joe Biden Dilantik sebelum Balas Dendam Kematian Ilmuwan Nuklirnya

Mantan Kepala CIA meminta Iran untuk menunggu Joe Biden dilantik menggantikan Donald Trump sebelum melancarkan tindakan balas dendam atas kematian Mohsen Fkhrizadeh. Mengapa?

28 November 2020 18:30 WIB

Mohsen Fakhrizadeh
Mohsen Fakhrizadeh istimewa

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Mantan Direktur CIA, John Brennan, berkomentar tentang insiden pembunuhan seorang ilmuwan nuklir Iran.

Ia mendesak Teheran untuk menunggu "kembalinya kepemimpinan Amerika Serikat yang bertanggung jawab" sebelum melakukan tindakan balas dendam terhadap pelaku yang mereka curigai.

Di tengah beredarnya spekulasi soal adanya keterlibatan Israel dan AS didalam kasus pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh, Brennan menyebut pembunuhan tersebut adalah "aksi kriminal [dan] sangat nekat".


China Klaim Virus Covid-19 Sudah Ada di India Sebelum Menyebar ke Wuhan

"Ini berisiko memicu pembalasan dendam yang mematikan & babak baru konflik regional," katanya tentang serangan hari Jumat di dekat Teheran terhadap Fakhrizadeh oleh sekelompok orang tak dikenal, dalam postingan Twitternya.

"Iran sangat bijaksana jika menunggu kembalinya kepemimpinan Amerika Serikat yang bertanggung jawab di panggung global dan menolak dorongan untuk menanggapi para pelaku yang dianggap bersalah," tambahnya.

Kepemimpinan Amerika Serikat yang bertanggung jawab yang dimaksud oleh Brennan adalah pemerintahan Joe Biden. Tokoh Partai demokrat tersebut diyakini oleh banyak orang akan melakukan pendekatan kebijakan luar negeri seperti Obama.

Dalam kicauan kedua, Brennan mengatakan dia "tidak tahu apakah pembunuhan Fakhrizadeh tersebut adalah perintah dari sebuah pemerintahan asing."

Namun, jika itu benar, Brennan mengatakan bahwa tindakan seperti itu adalah tindakan "terorisme yang mendapat dukungan dari sebuah negara."

"Aksi terorisme yang disponsori negara tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan mendorong lebih banyak negara untuk melancarkan serangan mematikan semacam tersebut terhadap pejabat asing," tulisnya.

Ia menyimpulkan bahwa kematian Fakhrizadeh jauh berbeda dengan kematian para pemimpin teroris atau kelompok militan seperti Al Qaeda dan ISIS, dimana mereka bukanlah sebuah negara atau lembaga resmi. Sebagai seorang tentara atau pasukan yang tidak legal menurut UU Internasional, mereka dapat menjadi sasaran dalam upaya menghentikan serangan teroris yang mematikan.

Virus Covid-19 Tidak Berasal dari Wuhan, WHO: Sangat Spekulatif

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia