logo


Beri BLT ke Seniman, Menparekraf Wishnutama Dinilai Tak Kreatif

Seniman itu lebih membutuhkan apresiasi terhadap karya ketimbang bantuan langsung berupa uang.

26 November 2020 17:18 WIB

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio ist

YOGYAKARTA, JITUNEWS.COM - Seniman Butet Kartaredjasa menilai langkah Menparekraf Wishnutama dalam memberikan bantuan langsung tunai atau BLT kepada para seniman merupakan kebijakan yang tidak kreatif. Baginya, seniman itu lebih membutuhkan apresiasi terhadap karya ketimbang bantuan langsung berupa uang.

“Saya tidak berani menilai seorang menteri, saya itu cuma mengoreksi saja dan memberikan usulan. Saya cuma bilang, kalo seniman itu dibantu dengan pendekatan BLT (Bantuan Langsung Tunai) itu, pendekatan yang kurang kreatif lah. Karena bagi seniman itu, bukan hanya menerima duitnya, tetapi seniman itu butuh proud, butuh kebanggaan,” ujar Butet, sebagaimana dikutip dari Tagar, Kamis (26/11).

Butet menjelaskan, bantuan dari Pemerintah berupa BLT itu seharusnya bisa diwujudkan melalui pembelian karya seniman. Menurutnya, cara itu lebih bisa diterima para seniman.


Wishnutama Ajak Masyarakat Nonton Film Indonesia di Rumah via GoPlay

“Misalnya, seniman seni rupa itu, karya-karyanya yang sketsa yang pakai kertas HVS saja itu dibeli dengan nilai seharga BLT. Itu bagi seniman ada kebanggaan bahwa karyanya dikoleksi oleh negara,” terang dia.

“Karya itu nanti diframe lalu dipasang di kantor-kantor pemerintah seluruh Indonesia. Seperti kantor Kementerian atau kantor Kedinasan. Dalam hal ini, pemerintah pusat dapat membagi karya-karya itu kepada kantor Kementerian atau Kedinasan untuk dijadikan elemen interior,” lanjutnya.

Butet menilai langkah tersebut bisa menguntungkan semua pihak, karena selain mendapat uang, seorang seniman juga mendapat kebanggaan atau sertifikat yang memperkaya portofolionya.

Dia kemudian memberi contoh di ranah kepenyairan. Pemerintah bisa mengumpulkan puisi bertema pandemi untuk dibukukan.

“Puisi-puisi itu disumbangkan kepada negara kemudian dibukukan misalnya. Itukan punya nilai keabadian, kearsipan, senimannya bangga puisinya di collect oleh negara. Jadi itu masalah kemasan. Jadi yang saya usulkan, seperti itu. Saya ngga ngerti apakah dengan demikian seorang menteri menjadi berkualitas atau tidak, tapi ini cuma pikiran-pikiran jahil gitu ajalah,” tutupnya.

Era Normal Baru, Jokowi: Preferensi Liburan Akan Bergeser ke Virtual

Halaman: 
Penulis : Iskandar