logo


Angka Seharusnya Bicara dan Bertindak

Angka menunjukkan penguasaan masalah. Angka mengarahkan tepat sasaran tepat tindakan. Angka menginspirasi kinerja dan prestasi

21 November 2020 20:16 WIB

Dr. Abidinsyah Siregar
Dr. Abidinsyah Siregar Antara

Manusia sudah akrab dengan angka dan kata sejak usia dini. Pertumbuhan fisik dan kecerdasan kita sebagai manusia, juga diukur dengan angka.

Angka 21 tahun pada wanita merupakan tanda siap terbaik menjadi istri dan ibu yang matang. Angka 25 tahun pada pria merupakan saat matang bagi pria menjadi suami dan bapak cerdas. Angka membangun keluarga berkualitas.

Seorang bidan mengatakan, “Ibu, kurangi makan makanan berlemak dan jangan banyak garam ya, bisa mengganggu kehamilan,” tercatat di lembar periksa tekanan darah tertulis angka 140/85 mmHg.


Pencopotan Baliho Rizieq, Andi Arief: Kalau TNI Turun Tangan, Berarti Negara dan Pendukungnya Kalah

Seorang bapak pulang dari laboratorium, dengan wajah murung mengatakan, “Bu, bapak harus banyak olah raga dan mengurangi makan minum yang banyak kandungan gula,” sambil menunjukkan kertas yang tertulis KGD 300.

Angka-angka menjadi berarti, bermakna dan menggerakkan jika terhubung dengan KEPENTINGAN manusia.

Angka-angka di Era Pandemi Covid-19

Sejak muncul isu terjadinya wabah virus unik di Wuhan, China akhir tahun 2019 yang lalu, maka mulai bertebaran angka-angka di berbagai media di seluruh dunia. Banyak negara berkomentar, katanya tidak mungkin virus dengan jarak dalam angka ribuan Kilometer sampai dan mewabah di negerinya.

Indonesia, di pertengahan bulan, dua para pakar dan epidemiolog sudah tanya kemungkinan Covid-19 masuk ke Indonesia.

Beberapa negara asing sudah melaporkan sejumlah angka wisatawan yang kembali dari Indonesia pulang ke negaranya terdeteksi terinfeksi virus Covid-19.

Otoritas Kesehatan menjawab tidak terdeteksi dan mengajak bersyukur.

China mulai panik, namun sudah punya konsep dengan hitung-hitungan angka yang akurat, mulai membuat scenario exit-strategi, agar ANGKA kejadian bisa cepat dikendalikan.

Awal Januari 2020, scenario dimulai. Penerapan lockdown di kota Wuhan dengan kebijakan teknis, penduduk kota tersebut berapa pun angka-nya tidak boleh meninggalkan kota Wuhan. Dan selanjutnya semua warga asing diperintahkan untuk meninggalkan kota Wuhan dan kembali ke negaranya di seluruh dunia.

Terbanglah semua warga negara asing kembali ke negara asalnya dalam angka yang besar, melalui ribuan penerbangan ke ratusan negara.

Tetapi sang warga “tanpa menyadari” dan “tidak disadari” oleh negara asalnya bahwa mereka yang berada dalam ribuan pesawat penerbangan Internasional sudah membawa virus Covid-19 dalam angka yang besar.

Dalam sekejap, di sepanjang Februari 2020, dilaporkan negara yang terpapar sudah melampaui 140 negara, suatu angka yang besar.

Beberapa negara (cerdas), dengan respons tinggi, melihat ancaman angka infeksi yang menular cepat, segera melakukan simulasi menghadapi angka-angka yang akan tiba dari jalur udara maupun darat, yang dikenal sebagai Imported Cases.

Terbukti mereka sukses seperti Vietnam, Laos, Mongolia, Kamboja dan banyak lagi, yang bahkan tidak mempunyai angka kematian.

China dalam lima bulan sudah mengendalikan persebaran virus sehingga nyaris tidak menyebar ke kota lain. Kita tahu China penduduknya milyaran.

Direktur Jenderal WHO Mr.Tedros Adhanom sejak menyatakan epidemik virus Covid-19 menjadi Pandemi pada 11 Maret 2020, WHO meluncurkan konsep pencegahan dan upaya pemutusan rantai penyebaran infeksi virus Covid-19 melalui penerapan protokol kesehatan dengan 3 M. Dan protokol tindakan medis dengan ikon 3 T. Ada angka dan huruf.

Antitesa di sebagian besar negara terdampak Covid-19, masyarakatnya justru tidak percaya dengan adanya Pandemi.

Masyarakat negara maju percaya pada pemerintah dan kecanggihan kedokteran bisa mengatasi Covid-19. Mereka abai dengan angka-angka yang eksponensial.

Era tehnologi IT, membuat pemerintah berlomba cepat dengan opini yang terbentuk di masyarakat, semakin lamban negara mensosialisasikan angka dalam bahasa informasi yang mudah dipahami dan upaya perubahan perilaku masyarakat, semakin tergerus oleh opini bahkan hoaks yang dibungkus narasi spekulatif.

Sementara itu angka kejadian di dunia terus naik, antar negara saling menyalip ke atas, yang semula China teratas, disalip Italia, kemudian Spanyol dan kini Amerika Serikat sangat kuat angka-nya untuk bertahan diatas (12,0 juta kasus), diikuti India (9,0 juta), Brazil (5,9 juta) dan Prancis (2,0 juta).

Sementara China sudah turun jauh ke bawah pada urutan 64, dengan pertambahan kasus harian dalam angka hanya 15 kasus menjadi total kumulatif 11 bulan (sejak Desember 2019) menjadi 86.361 kasus, tanpa angka pertambahan kematian sehingga bertahan diangka 4.364 orang. Dan sembuh 81.374 orang dengan kesembuhan 94,2 %.

Kiat China, mengelola angka dengan melakukan tes dan tracing yang menjangkau semua kasus, kontak dan suspek sebanyak 160.000.000 Test (mencapai Ratio Test 111.163 per sejuta penduduk) sehingga menemukan dengan cepat inang dari virus Covid-19, dan menghentikan persebaran virus dengan menerapkan Protokol Kesehatan (3 M) secara ketat dan disiplin, yang tidak bisa diintervensi oleh siapa dan lembaga apapun.

Indonesia, sudah diingatkan Bapak Presiden RI Joko Widodo di akhir Maret 2020 bahwa akan masuk pelintas batas sekitar 1 juta orang Indonesia yang harus pulang karena negara tempat bekerja ditutup/lockdown. Sepertinya kurang di respons.

Uniknya Amerika Serikat dengan 174.984.245 test dan Ratio 527.452 test/sejuta penduduk (lebih banyak dari China), justru kasusnya hampir 12 juta dengan kematian lebih 258.000 orang, dan kesembuhan 60,1%.

Apa yang salah dengan Amerika Serikat?.. Momentum!!..

Surveilans Epidemiologi harus menghasilkan Rencana Aksi. Aksi ditentukan angka yang valid dan terpercaya, tindakan ditentukan oleh momentum. Keduanya angka dan momentum dibungkus kebijakan yang akuntabel dan terorganisir.

China menggunakan angka dan bertindak pada momentum yang tepat dan cepat. Amerika Serikat punya angka didukung fasilitas yang canggih, tapi alpa dengan momentum, sehingga bagai tenggelam dalam kubangan virus Covid-19.

Corona Virus di Indonesia

Sejak diumumkannya kasus pertama terinfeksi Covid-19 di Indonesia oleh Bapak Presiden pada 2 Maret 2020, kini dalam 268 hari, angka pertambahan kasus harian terkonfirmasi semakin membesar. Dari semula puluhan dan ratusan pada Maret-Mei 2020, menjadi seribuan pada Juni, 2.000an (Juli), 3.000an (Agustus) berlanjut ke-angka 4.000an pada September, dan kini angka-nya menembus 5.000an pada November.

Pada 19 November, Indonesia mencatat angka terkonfirmasi kumulatif 483.518 kasus, dimana pertambahah sehari itu 4.798 kasus. Kematian bertambah 97 orang menjadi 15.600 orang sejak 11 Maret 2020. Sembuh 406.612 atau 84,1%. 61.306 sedang perawatan, sebahagian dalam keadaan serius (angka-nya belum ada).

Jauh sebelum ini, sekitar akhir Maret 2020, sejumlah lembaga melakukan riset dan prediksi Pandemi Covid-19 di Indonesia. Lembaga tersebut prestisius dibidangnya seperti BIN, UI, ITB, UGM, juga LSI Denny JA.

Badan Intelijen Negara (BIN) sudah membuat prediksi peningkatan setiap bulannya. BIN memberi angka 1.577 kasus pada akhir Maret 2020. 27.307 kasus pada akhir April. 95.451 kasus pada akhir Mei dan menembus seratus ribu diakhir Juni yakni 105.765 kasus. Ketepatan BIN memprediksi angka kasus mendekati 95%.

Awalnya angka ini dibantah para otoritas Kesehatan dan Pencegahan Covid-19 bahwa kajian BIN itu bisa tidak terjadi bila langkah-langkah pencegahan terus dilakukan. Jika dibaca terbalik, apakah kemudian Pencegahan kalah cepat?

Ketika itu penulis, mengajak pihak terkait untuk berkolaborasi mendalami angka paparan yang dipublikasi BIN, lembaga Riset dan Universitas untuk memotong dan memutus rantai penyebaran virus. Tapi sepertinya tidak ada yang memperhatikan angka-angka itu, perdebatan pada hal yang sekunder. Dan akhirnya angka yang tampil kini sudah lebih lima kali lipat dan belum berhenti.

Banyak publik bertanya, akan sampai berapa kasus positif Covid-19 di Indonesia?

Mudah dijawab, jika dengan rata-rata Test 20.000 perhari kita mendapat 3.000 sampai 4.000 rerata per hari kasus terkonfirmasi, maka bagaimana jika ditingkatkan seperti harapan Bapak Presiden agar 30.000 Test perhari?, Bagaimana jika 100.000 Test perhari, Bagaimana pula jika jumlah Test sampai 50.000.000 (10 kali saat ini).

Tidak perlu terkejut atau terperangah membayangkannya. Hanya angka yang bisa menyelesaikan, bukan wacana.

Biayanya, sekitar 50 triliun untuk 50 Juta Test PCR jika harga satuan di angka 1 Juta Rupiah/Test Swab PCR. Tidak seberapa dibanding dengan Anggaran Cegah Covid-19 yang disediakan sebanyak Rp.905.000.000.000.000,-.

Sahabat kita Singapura, Malaysia dan Thailand semula jumlah kasusnya jauh diatas Indonesia. Kini saat Indonesia di urutan ke 21 dari 217 negara. Singapura sudah turun ke urutan 82 dengan 58.130 kasus (pertambahan sehari 6 kasus) dengan kematian kumulatif 28 orang (dan sudah lama tanpa pertambahan kematian), serta kesembuhan 99,8%.

Demikian juga Malaysia turun ke urutan 85 dengan 49.730 kasus kumulatif (sekalipun pernah ada pertemuan akbar ummat islam Asia, dan Pilkada di Sarawak), dengan kematian kumulatif 318 orang dan pertambahan terakhir 5 orang dengan Kesembuhan 73,6 %.

Sedangkan Thailand pada urutan 151 dengan jumlah kasus terkonfirmasi 3.878 dengan pertambahan sehari terakhir 3 orang. Kematian 60 orang dan sudah lama tanpa ada kematian karena terinfeksi Covid-19, dengan kesembuhan 96,0 %.

Pengendalian Covid-19 Bergantung Kepedulian pada Angka

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus (Covid-19) Revisi V (Perbaikan ke LIMA) Kemenkes yang ditandangani Menkes 13 Juli 2020, belum membuka Big Data kasus di Indonesia. Sedikit data dalam Revisi V hanya menginformasikan pola paparan Covid-19 di China. Dan belum “mengangkat” Keterlibatan masyarakat, padahal keterlibatan masyarakat adalah kunci sukses.

Pertambahan kasus yang sangat besar setiap harinya, fluktuasi pertambahan yang dinamis diberbagai Kota besar bagai saling berlomba angka, disamping masih rendahnya angka ratio test persejuta penduduk (kita termasuk terendah didunia) tentu menyimpan angka yang besar dan wajib dikonfirmasi.

Apa yang terjadi kemudian menunjukkan kesan program upaya pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran virus Covid-19 hingga saat ini tidak dapat di prediksi kapan berakhirnya.

Angka-angka yang Menjadi Isu ‘Bias’ di Masyarakat

Sejumlah isu di masyarakat yang diterjemahkan sendiri dan berdampak tidak sejalan dengan upaya pencegahan Covid-19 dan Pemulihan ekonomi.

# Kesembuhan Kasus Kita Sudah di Atas 80% : dimaknai sebagian publik bahwa Infeksi Covid-19 “tidak perlu ditakuti”. Di lapangan tampak disiplin masyarakat bukan semakin menguat, tetapi mengendur. Apalagi penegakkan disiplin/hukum pun semakin kendor.

Sinyalemen ini diperkuat oleh hasil survey BPS pada 7-14 September 2020 yang dilakukan secara daring dengan melibatkan 90.967 responden (69% responden usia dibawah 45 tahun dan 61% berpendidikan S1 keatas). Hasilnya 17% masyarakat percaya diri tidak akan tertular virus Covid-19.

Sekalipun fatalitas Covid-19 sekitar 2-3 % (kecil dibandingkan dengan banyak penyakit lainnya), tetapi efek kehilangan hari kerja berdampak luas kepada sektor kehidupan masyarakat.

# Lebih 90% Kematian Covid-19 karena Komorbid (terutama di atas 46 tahun).

Komunitas dibawah 45 tahun mis-persepsi bahwa mereka merasa aman. Komunitas ini selain jumlahnya lebih 70 % dari total penduduk, mobilitasnya tinggi, dan jika terinfeksi umumnya tanpa gejala. Mobilitasnya menjadi alat transport Virus Covid-19 ke rumah dimana komunitas usia di atas 46 tahun khususnya lanjut usia berdiam di rumah dan sebagian besar mengidap Komorbid (penyakit penyerta).

Pengalaman penulis sebagai Komisioner Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) 2013-2019, terakhir menemukan hampir 70% jamaah haji Indonesia tergolong risiko tinggi dengan Penyakit Tidak Menular kronis yang identik dengan Penyakit Penyerta.

Sudah saatnya Big Data keterpaparan Virus Covid-19 digali dan diungkapkan secara professional membangkitkan kesadaran nasional dalam kebersamaan harmonis antara pemerintah dan masyarakat untuk mengendalikan dan menghentikan Pandemi Covid-19 di Indonesia.

Dengan angka yang terurai, faktual dan menggugah kita bisa mengajak masyarakat menjadi cerdas melakukan tindakan yang benar, mudah, cepat dan tepat sasaran serta tepat tindakan. Masyarakat butuh alasan untuk mengerti, masyarakat butuh kepastian untuk bertindak.

Tepat sasaran dan tepat tindakan menunjukkan seberapa “cerdas dan berkuasa” kita menghadapi masalah dan menemukan solusi, mengendalikan dan menghentikan Covid-19.

Jakarta, 20 November 2020, Pukul 21.30 WIB

Penulis: Dr. Abidinsyah Siregar

*) Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes : Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Deputi BKKBN 2013-2017/ Komisioner KPHI 2013-2019/ Direktur Binyankes Tradkom Kemenkes 2011-2013/ Ses.Inspektorat Jenderal Depkes 2010-2011/ Kepala Pusat Promkes Depkes RI 2008-2010/ Ses.KKI 2006-2008/ Kabag TU Dinkes Prov.Sum.Utara 203-2006/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand, 2004/ Ketua MN Kahmi 2009-2012/ Ketua PB IDI 2010-2012/ Ketua PP IPHI 2019-2020/ Ketua PP ICMI 2019-2024/ Ketua PP DMI 2020-2024/ Waketum DPP JBMI 2018-2022/ Ketua PP ASKLIN 2019-2022/ Penasehat BRINUS 2019-2024/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO 2019-2022/ Ketua IKAL FK USU 2019-2024/ Ketua PP KMA-PBS 2019-2024/ WaKorbid.Orbida dan Taplai DPP IKAL Lemhannas 2020-2024/ Pengasuh media sosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com.

WHO: Di Seluruh Eropa dan Amerika Utara, Rumah Sakit dan Ruang ICU Sudah Terisi Penuh

Halaman: