logo


Emmanuel Macron Sebut Turki dan Rusia Sebarkan Sentimen Anti-Perancis di Afrika

Presiden Perancis Emmanuel Macron menuding Turki dan Rusia sebarkan sentimen anti-Perancis di sejumlah negara Afrika

21 November 2020 10:00 WIB

Emmanuel Macron
Emmanuel Macron istimewa

PARIS, JITUNEWS.COM - Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Jumat (20/11) mengatakan bahwa meningkatnya sentimen anti-Perancis di sejumlah negara Afrika sengaja dimunculkan oleh Turki dan Rusia, yang menyebarkan spekulasi-spekulasi terhadap sejarah kolonial Perancis di kawasan tersebut.

"Selama beberapa dekade, kami memiliki hubungan institusional yang sangat baik dengan Afrika, termasuk sejumlah kepala negara dan perusahaan yang ada. Namun, kebencian (mereka) memainkan peran tertentu," kata Macron dalam sebuah wawancara dengan majalah Jeune Afrique, dikutip Sputnik News, Sabtu (21/11).

"Namun hal itu tentunya tak lepas dari adanya strategi, yang terkadang diimplementasikan oleh sejumlah petinggi Afrika, namun khususnya negara asing, seperti Rusia dan Turki," tambahnya.


Terbangkan Drone Secara Sembrono, Pemuda AS Ini Ditangkap FBI

Macron menuding sejumlah media massa berbahasa Perancis yang sering melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Perancis telah ditumpangi oleh Rusia dan Turki. Menurutnya, Perancis dan sejumlah negara Afrika harus tetap menjaga hubungan baik mereka saat ini terlepas dari sejarah kolonialisme.

"Sejarah akan tetap ada. Kita semua adalah pewarisnya. Tapi apakah kita ikut serta di dalamnya (sejarah penjajahan)? Tidak...Kita seharusnya tidak mengulang sejarah kita. Itu akan menjadi sangat buruk," ujar Macron.

Sejarah mencatat bahwa Perancis memulai kolonisasi di Afrika pada abad ke-16 dan berhasil menguasai separuh wilayah Afrika pada tahun 1920. Djibouti, salah satu negara jajahan Perancis di Afrika bahkan baru merdeka pada tahun 1977

Pengaruh Perancis di negara-negara Afrika bahkan masih bisa dilihat hingga saat ini. Jumlah perusahaan Perancis yang saat ini beroperasi di Afrika bahkan mencapai lebih dari 1.100 dimana mereka menyediakan sedikitnya 470 ribu lapangan pekerjaan.

Sejak tahun 2014 lalu, lebih dari 5000 personil pasukan militer Perancis juga ditugaskan di sejumlah negara bekas jajahan mereka, seperti Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania dan Niger, untuk melakukan operasi militer guna mengatasi sejumlah kelompok militan yang ada, namun hingga kini mereka masih belum dapat meningkatkan situasi keamanan negara-negara tersebut.

Obama Sebut Navy SEALS Bisa Diterjunkan untuk Usir Trump dari Gedung Putih

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia