logo


Ironi Bisnis Sawit di Negeri Sendiri

Eropa menuding Indonesia membabat hutannya untuk membuka lahan perkebunan sawit.

27 Oktober 2020 13:05 WIB

Pekerja memindahkan tandan buah segar kelapa sawit ke dalam truk.
Pekerja memindahkan tandan buah segar kelapa sawit ke dalam truk. Reuters

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Negeri gemah ripah loh jinawi, demikian yang dikatakan orang. Semua sudah mahfum bahwa negeri kita kaya, di negeri ini semua ada. Jangan tanya soal sumber daya alamnya, sangat melimpah, apalagi soal sawitnya.

Sayangnya, banyak yang belum tahu bahwa Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit di dunia. Produk kelapa sawit dan turunannya ini telah diekspor ke seluruh penjuru dunia dan merupakan komoditas ekspor penghasil devisa terbesar bagi Indonesia.

Bahkan jikapun Indonesia menerapkan B-50 hingga B-100 pada program biodieselnya, pastinya bukan masalah. Setidaknya tiap tahunnya minyak sawit menyumbang devisa ratusan triliun rupiah, bahkan di tahun 2017, devisa hasil ekspor minyak sawit mencapai Rp 320 triliun.


Bio Diesel Menggunakan Sawit Lebih Sustainable Dibandingkan Kedelai

Wajar jika industri yang menjadi tulang punggung bangsa ini mendapat 'serangan' dari banyak negara lain. Minyak sawit harus bersaing dengan minyak nabati lain dari negeri orang seperti minyak kedelai, minyak papesheed, dan minyak bunga matahari. Oleh sebabnya muncullah sejumlah isu yang dibuat-buat untuk membomsai industri sawit Indonesia, mulai dari isu lingkungan hingga kesehatan.

Kebakaran hutan, serangan panas industri sawit

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurracman mengatakan, isu-isu dan tuduhan negatif terhadap industri sawit Indonesia justru banyak yang berasal dari luar Indonesia dan umumnya tidak berdasarkan fakta objektif di lapangan.

"Beberapa isu ini diproduksi sebagai dampak dari persaingan dagang komoditas minyak nabati dunia," ujar Eddy dalam Journalist Fellowship 2020 yang diselenggarakam oleh BPDPKS secara daring, Rabu (21/10).

Sejumlah isu tersebut antara lain anggapan bahwa perkebunan dan industri sawit merupakan penyebab hilangnya hutan tropis, isu sawit sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, isu sawit sebagai penyebab hilangnya keanekaragaman hayati. "Isu itu dibuat-buat hanya untuk motif persaingan bisnis," kata Eddy menegaskan.

Soal kebakaran hutan, faktanya memang benar hampir setiap tahun Indonesia mengekspor asap ke negeri tetangga, namun apakah kebakaran hutan tersebut disebabkan oleh pembukaan lahan baru untuk kebun sawit?

Pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Bandung Sahari, mengatakan bahwa tidak ada kaitan antara kebakaran hutan dengan perkebunan sawit. Hal itu perlu dibuktikan di muka hakim.

Jika merujuk pada data, kebakaran hutan hampir terjadi di seluruh provinsi di Indonesia, baik di provinsi sentra sawit maupun tidak. Memang di Riau maupun di Kalimantan Tengah kebakaran hutan relatif luas, namun di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah sebagai provinsi yang bukan basis perkebunan sawit, luas kebakaran hutannya juga besar.

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Bandung mengungkapkan lagi, jika dilihat secara global, Indonesia malah tidak masuk 10 negara dengan kebakaran hutan paling luas pada tahun 2019 kemarin. Dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Eropa, luas kebakaran hutan di Indonesia masih kalah jauh. Amerika Serikat mencapai 491,4 ribu hektar per tahun, Eropa mencapai 202,4 ribu hektar per tahun, sementara Indonesia hanya sebesar 12.25 ribu hektar per tahun.

Hoaks Deforestasi

Isu lainnya yang dijadikan serangan untuk minyak sawit asal Indonesia adalah soal deforestasi. Eropa menuding Indonesia membabat hutannya untuk membuka lahan perkebunan sawit.

Dalam satu kesempatan, Dewan Pakar Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki), Petrus Gunarso membantah tudingan dari Uni Eropa atas isu deforestasi yang terjadi di Indonesia. Hasil penelitiannya dari citra satelit dari periode 1990-2012, perkebunan sawit yang saat ini berdiri di atas tanah Indonesia 43 persen berasal dari tanah terlantar, 27 persen lainnya dari hutan produksi terdegradasi, sementara 14 persen dari tanah pertanian. Ada juga dari Hutan Tanaman Industri (HTI) seluas 13 persen, dan sisanya dari hutan produksi.

Sementara dari penelitian lain yang dilakukan oleh Eric Meijjard, hilangnya hutan hujan tropis bukan lantaran pembuatan perkebunan kelapa sawit. Penelitian yang dilakukan pada rentang waktu tahun 1972-2015 itu menyebutkan bahwa hanya setengah dari perkebunan yang dibuka dari hutan, sisanya diambil dari lahan pertanian, padang rumput, semak belukar, dan penggunaan lahan lainnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan luas kebun sawit Indonesia pada tahun 2018, hanya seluas 14,03 juta hektar atau 7% dari luas daratan Indonesia.

Belum lagi serangan soal isu kesehatan, dibilang minyak yang berasal dari sawit tidak baik untuk kesehatanlah, mengandung banyak kolesterollah, dan lain-lain. Macam-macam fitnah yang digunakan. Padahal, menurut Wakil Ketua Umum Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI) Darmono Taniwiryono, virgin red oil yang bahan dasarnya berasal dari sawit kaya akan vitamin e. Minyak asal sawit justru baik untuk kesehatan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Sebagai warga negara Indonesia yang baik, isu-isu semacam ini, yang menyerang industri sawit tanah air jangan ditelan mentah-mentah. Apalagi justru menjadi corong penyebar isu hoaks dan fitnah terhadap industri tulang punggung tanah air. Sungguh ironis!

Lakukan Langkah Preventif Atasi Masalah di Sektor Sawit, Mentan Lakukan Diskusi Dengan KPK

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan