logo


Boni Hargens: Sumpah Pemuda itu Momen Sakral, Hindari Adanya Aksi Anarkis

Tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda telah mengirarkan Indonesia sebagai satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dimana peristiwa sejarah itu sakral dan menjadi bagian sentral dari perjalanan historia bangsa dan negara Indonesia.

26 Oktober 2020 17:42 WIB

Jitunews/Khairul

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens mengatakan hari Sumpah Pemuda yang diperingati pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya harus dijadikan momen sejarah yang penting.

Menurutnya pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda telah mengirarkan Indonesia sebagai satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Dimana peristiwa sejarah itu sakral dan menjadi bagian sentral dari perjalanan historia bangsa dan negara Indonesia.

“Sudah selayaknyalah generasi bangsa hari ini memperingatinya sebagai momen sejarah yang penting. Perjuangan ‘menjadi Indonesia’ adalah perjuangan tiada henti dalam mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang satu, adil dan makmur,” ujar Boni di Jakarta, Senin (26/10/2020).


Kelompok Pendukung Risma Bermunculan, Ini Komentar Wanita Emas

Dalam hal ini, Boni mengatakan bahwa setiap jaman punya tantangannya sendiri. Menurutnya para pemuda sebelum dekade 1940-an tentu berjuang melawan kolonialisme dan imperialisme asing, namun para pemuda di jaman sekarang berjuang melawan lebih banyak lagi musuh.

Dimana musuh itu bisa datang dari dalam dan bisa dari luar. Musuh dari dalam seperti terorisme, radikalisme dan separatisme. Sedangkan musuh dari luar ada yang kelihatan dan ada yang tidak kelihatan.

“Jaringan terorisme itu berbasis internasional. Itu musuh yang kelihatan. Dominasi pasar dan penguasaan infrastruktur digital seperti Over The Top (OTT) masih dihantui kekuatan asing. Kita bisa menyebutnya ‘kolonialisme digital’ di jaman modern. Tetapi itulah contoh tantangan yang harus dihadapi bangsa Indonesia hari ini dan di masa depan,” kata Boni.

Oleh karena itu, lanjut Boni, diperlukan ketangguhan dan kesiapan generasi muda dalam menghadapi perkembangan era kekinian.

Menurutnya kaum muda harus berjuang mengembangkan potensi dan kompetensi di bidang keilmuan dan keterampilan. Begitulah cara kita mengisi kemerdekaan dan menjadi Indonesia di jaman modern.

Boni menambahkan berbagai provokasi politik dan hasutan untuk melakukan anarkisme dalam menyampaikan pendapat di ruang publik harus dihindari oleh generasi muda.

“Hindari kebiasaan hoaks dalam berpendapat di dunia maya. Generasi muda harus menjadi yang terdepan dalam membangun narasi positif dan rasional di ruang public,” tuturnya.

Boni juga menyoroti adanya desas-desus, kelompok oposisi jalanan ingin kembali melakukan aksi protes menolak UU Omninus Law Cipta Kerja pada peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020.

“Aksi massa itu memang bagian dari partisipasi politik dalam demokrasi. Namun, hindari anarkisme sebagaimana dalam aksi 8/10 dan 13/10 pada paruh pertama bulan ini. Semua itu tidak mencerminkan kedewasaan dalam berdemokrasi dan hanya merusak citra kaum muda sendiri,” tuturnya.

Disisi lain, Boni juga mengatakan para ormas dan kelompok oposisi jalanan seperti Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) sebaiknya menghimbau para anggota dan simpatisannya untuk melakukan peringatan sumpah pemuda dengan cara yang lebih elegan dan tidak mengganggu kepentingan umum.

Menurutnya kalau memang benar m ada agenda turun ke jalan pada 28 Oktober 2020, rancanglah suatu aksi protes yang lebih cerdas dan damai, bukan aksi brutal dan anarkis.

“Tunjukkan bahwa KAMI benar-benar ingin mengambil bagian di dalam proyek membangun bangsa dan negara meski melalui jalan yang berbeda. Berbeda itu normal, tetapi menabrak norma dan hukum yang berlaku hanya supaya kelihatan ‘berbeda’ itu tidak normal,” kata Boni.

“Pemerintahan dalam sistem demokrasi membutuhkan kritik dan evaluasi dari oposisi. Maka, peran masyarakat sipil harus menonjol dalam memberikan evaluasi, tetapi dengan cara-cara yang tidak melawan hukum supaya tidak kontraproduktif,” pungkasnya.

Mengharapkan Presiden Jokowi Menegur Ahok Adalah Sebuah Ilusi

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar