logo


Jadi Penyumbang Devisa Terbesar, Ironis Sektor Kelapa Sawit Malah Banyak Diserang Isu Negatif

Isu-isu dan tuduhan negatif terhadap sawit banyak yang berasal dari luar Indonesia dan umumnya tidak berdasarkan fakta objektif

21 Oktober 2020 20:27 WIB

Ilustrasi petani kelapa sawit.
Ilustrasi petani kelapa sawit. worldwildlife.org

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit di dunia. Produk kelapa sawit dan turunannya telah diekspor ke seluruh penjuru dunia dan merupakan komoditas ekspor penghasil devisa terbesar bagi Indonesia.

Sayangnya, industri yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia ini diserang oleh sejumlah isu negatif, bahkan ke arah fitnah. Hal itu disayangkan oleh Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Abdurracman.

"Dengan besarnya peran komoditas sawit tersebut, sangat ironis bahwa kemudian komoditas ini belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Isu negatif terhadap sawit di dalam negeri masih marak dan kerap diterima masyarakat dengan pemahaman yang keliru sehingga dianggap sebagai kebenaran umum," ujar Eddy dalam Journalist Fellowship 2020 yang diselenggarakam oleh BPDPKS secara daring, Rabu (21/10).


Bamsoet Dorong Kementan Desak Pelaku Perkebunan Sawit Data Lahan Peremajaan

Eddy mengungkapkan, sejumlah isu tersebut seperti anggapan bahwa perkebunan dan industri sawit merupakan penyebab hilangnya hutan tropis, isu sawit sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, isu sawit sebagai penyebab hilangnya keanekaragaman hayati, isu minyak sawit tidak baik bagi kesehatan, isu penggunaan tenaga kerja anak di perkebunan sawit, dan bermacam isu negatif lainnya yang dialamatkan kepada sawit.

Menurut Eddy, isu-isu dan tuduhan negatif terhadap sawit banyak yang berasal dari luar Indonesia dan umumnya tidak berdasarkan fakta objektif di lapangan. Beberapa isu ini diproduksi sebagai dampak dari persaingan dagang komoditas minyak nabati dunia, di mana sawit memang memiliki keunggulan komparatif dibandingkan minyak nabati lainnya seperti minyak Kedelai, minyak Rapesheed, minyak Bunga Matahari, dan lain-lain.

"Namun terkadang tanpa disadari, beberapa kelompok masyarakat kita turut berperan dalam mengamplifikasi isu negatif tersebut di dalam negeri," imbuhnya.

Lebih lanjut Eddy mengatakan, sungguh sebuah paradoks, komoditas hasil negeri sendiri yang memiliki manfaat begitu banyak, justru belum dipahami dan bahkan banyak dikritik oleh masyarakat dalam negeri sendiri. Menurutnya, dalam jangka panjang, isu-isu negatif ini akan merugikan perkebunan dan industri sawit nasional dan tentu akan berdampak pula bagi kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia.

Diplomasi Sawit di India, Mendag Tekankan Prinsip Kemitraan dan Kolaborasi

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan