logo


Tak Ingin Navalny Kembali ke Rusia, Kremlin Gunakan Sejumlah Intimidasi

Salah satu rekan Navalny mengatakan bahwa pihak pemerintah Rusia sebenarnya tak ingin tokoh oposisi Alexei Navalny untuk kembali ke Moskow

21 Oktober 2020 17:45 WIB

Alexey Navalny (tengah)
Alexey Navalny (tengah) the Guardian

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Salah satu tokoh oposisi Rusia menyebut bahwa pemerintahan Vladimir Putin terus berupaya mengintimidasi Alexey Navalny agar ia tidak kembali ke Rusia usai pulih dari senyawa racun.

Navalny, yang pada Agustus lalu jatuh sakit saat berada di wilayah Siberia, sejauh ini masih berada di Jerman usai mendapat pertolongan medis di salah satu rumah sakit di Berlin. Ia tengah menjalani masa pemulihan dari senyawa racun jenis Novichok.

Pihak Kremlin sejak saat itu telah membekukan aset yang dimiliki oleh Navalny karena diduga telah bekerja untuk Badan Intelijen AS, CIA, dan menyebutnya telah melakukan pengkhianatan.


Sanksi Sepihak AS terhadap Iran Akan Berakhir dengan Kegagalan

"Kami melihat segala bentuk intimidasi yang dilakukan oleh mereka:'mari kita amankan apartemennya....mari kita buka kasus pengkhianatan negara'," kata Leonid Volkov, seorang anggota tim Navalny kepada Reuters.

"Sangat jelas jika semua tudingan palsu tersebut bertujuan untuk mengintimidasinya," tambah Volkov.

Navalny berulang kali mengatakan bahwa dirinya tidak akan takut untuk kembali ke Moskow, dan pemerintah Rusia pun juga mengatakan bahwa ia bebas untuk melakukan hal tersebut. Pemerintah Rusia juga membantah tuduhan yang menyebut Presiden Vladimir Putin berada di balik percobaan pembunuhan Navalny dengan senyawa racun Novichok.

"Hingga tanggal 20 Agustus, kami tidak dapat membayangkan jika di era Rusia modern ini Putin bisa memberikan perintah untuk meracuni Navalny dengan novichok...ini adalah realita baru yang kita semua harus belajar untuk hidup dengan hal itu," lanjutnya.

"Tentunya mereka tidak ingin ia (Navalny) untuk kembali. Tapi itulah yang menjadi alasan bagi Navalny untuk kembali," tukasnya.

Presiden Armenia Bahas Penyelesaian Konflik Nagorno-Karabakh dengan NATO dan Uni Eropa

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia