logo


Pandemi Covid-19, Daftar OKB di China Justru Semakin Panjang

Pada tahun 2020 ini, China setidaknya memiliki 878 Miliarder, dimana hal itu lebih banyak daripada Amerika Serikat

20 Oktober 2020 21:12 WIB

Bendera negara China.
Bendera negara China. Istimewa

BEIJING, JITUNEWS.COM - Pendapatan sejumlah orang terkaya di China sepanjang tahun 2020 ini telah mengalami peningkatan hingga USD 1.5 Triliun, seiring dengan meningkatnya sektor e-commerce dan industri game selama masa pandemi Covid-19.

Pada bulan Agustus lalu, daftar miliarder China juga mengalami peningkatan dimana setidaknya 257 orang kaya baru telah masuk ke dalam tersebut.

Menurut Hurun Report, China saat ini memiliki 878 miliarder, lebih banyak daripada Amerika Serikat yang "hanya" memiliki jumlah miliarder sebanyak 626.


Joe Biden Sebut Rakyat AS Muak dengan Kebohongan Trump soal Virus Covid-19

Dalam laporannya, Hurun mencatat bahwa pada bulan Agustus 2020 lalu, sedikitnya 2000 orang di China memiliki jumlah kekayaan yang lebih dari 2 Miliar Yuan (USD 300 juta). Sehingga jika total aset mereka digabungkan, maka kekayaan mereka mencapai USD 4 Triliun.

Dari ratusan orang terkaya di negeri Tirai Bambu tersebut, Jack Ma masih menyandang status orang terkaya. Penghasilan pendiri Alibaba Group yang namanya sempat dikaitkan dengan Sunda Empire tersebut mengalami peningkatan sebanyak 45 persen menjadi USD 58.8 Miliar, seiring dengan meningkatnya permintaan online-shopping di masa pandemi ini.

Ia kemudian diikuti oleh Ma Huateng, bos perusahaan Tencent pemilik aplikasi game PUBG Mobile dan WeChat, dengan total aset sebesar USD 57.4 Miliar. Menariknya, Ma Huateng tetap mengalami peningkatan penghasilan sebesar 50 persen meskipun perusahaannya di-banned oleh pemerintah AS terkait isu keamanan nasional.

"Dunia belum pernah melihat adanya peningkatan kekayaan sebesar ini dalam waktu satu tahun," kata Rupert Hoogewerf, kepala peneliti Hurun Report dalam sebuah pernyataan dikutip dari CNA pada Selasa (20/10).

Ia menambahkan bahwa daftar orang terkaya terbaru ini menunjukkan bahwa China telah "beralih dari sektor industri tradisional mereka seperti manufaktur dan real estate, menuju perekonomian baru."

Krisis Pangan di Wilayah Suriah yang Dikuasai Rezim Bashar al-Assad Semakin Memburuk

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia