logo


Tak Ingin Trump Kembali Terpilih Jadi Presiden AS, PM Palestina: Tuhan, Tolong Kami

Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh mengatakan bahwa terpilihnya kembali Trump sebagai presiden AS akan membahayakan rakyat Palestina dan dunia

14 Oktober 2020 19:30 WIB

Donald Trump
Donald Trump Business Insider

JERUSALEM, JITUNEWS.COM - Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh mengatakan bahwa terpilihnya kembali Donald Trump menjadi presiden AS pada Pilpres 3 November 2020 mendatang akan menjadi sebuah bencana bagi masyarakat dunia, khususnya rakyat Palestina.

Mohammad Shtayyeh mengatakan bahwa pada era pemerintahan Trump empat tahun terakhir ini telah melukai dan membahayakan rakyat Palestina.

"Jika kita harus hidup untuk empat tahun ke depan dengan Presiden Trump...Tuhan, tolong kami," kata Mohammad Shtayyeh dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah pejabat Uni Eropa dikutip dari Al Jazeera pada Rabu (14/10).


China, Kuba dan Rusia Terpilih Jadi Negara Anggota Dewan HAM PBB

"Jika kondisi AS berubah, Saya pikir ini akan merefleksikan secara langsung hubungan Palestina-Israel," tambahnya.

"Dan itu juga akan merefleksikan hubungan bilateral AS-Palestina," lanjutnya.

Pernyataan Mohammad Shtayyeh tersebut menunjukkan adanya keputusasaan dari pihak Palestina setelah sejumlah langkah kontroversial yang dilakukan oleh AS, termasuk mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel pada tahun 2017 dan memindahkan kantor kedubes AS untuk Israel ke kota tersebut.

AS juga menutup kantor Organisasi Pembebasan Palestina yang ada di Washington karena pemerintah Palestina menolak untuk melakukan negosiasi dengan Israel.

Trump juga memotong jutaan dolar dana bantuan AS untuk rakyat Palestina, dan pada awal tahun 2020 ini mengumumkan "Rencana AS di Timur Tengah" yang tentunya ditolak oleh Palestina. Rencana tersebut jelas menguntungkan Israel yang kemudian juga merencanakan perluasan wilayah hingga mencaplok wilayah teritorial Palestina di Tepi Barat.

Terbaru, pemerintahan Trump bahkan mendesak negara-negara Arab untuk menjalin hubungan diplomatik secara penuh dengan Israel. Uni Emirat Arab dan Bahrain sepakat melakukannya. Langkah tersebut dinilai merupakan pengkhianatan terhadap hak rakyat Palestina.

Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS Sebut Korut dan China Lebih Berbahaya Saat Ini

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia