logo


Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS Sebut Korut dan China Lebih Berbahaya Saat Ini

John Bolton menyebut Korea Utara dan China saat ini menjadi negara yang lebih berbahaya bagi AS

14 Oktober 2020 18:45 WIB

John Bolton (kanan) dan Donald Trump (kiri)
John Bolton (kanan) dan Donald Trump (kiri) Tempo.co

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat John Bolton mengatakan bahwa Korea Utara saat ini menjadi lebih berbahaya karena perkembangan yang berhasil mereka buat terkait kemampuan nuklir mereka beberapa tahun belakangan ini.

Dalam sebuah parade militer yang digelar pada Sabtu akhir pekan lalu, Korea Utara memamerkan sejumlah senjata terbarunya termasuk sebuah rudal balistik antar benua yang berukuran besar dan mematikan.

"Faktanya, kita menghabiskan banyak waktu dengan Trump gagal berdiplomasi dengan Korea Utara," kata Bolton dalam sebuah wawancara dikutip dari CNBC pada Rabu (14/10).


Pria Yunani Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup Usai Bunuh Seorang Peneliti Asal AS

"Negara tersebut perlu waktu untuk menyempurnakan kemampuan nuklir mereka, kemampuan rudal balistik mereka. Itulah yang tengah dilakukan oleh Kim Jong-un," tambahnya.

Sejak terpilih menjadi presiden As, Donald Trump telah menggelar dua pertemuan dengan Kim Jong-un di Singapura dan Vietnam guna membahas mengenai isu nuklir tersebut. Namun, diplomasi yang dilakukan oleh Trump tidak menghasilkan apa-apa. Trump berupaya menekan Korea Utara untuk menghentikan program nuklir mereka seiring dengan dijatuhkannya sanksi internasional, baik dari PBB maupun Amerika Serikat.

Sanksi tersebut diberlakukan untuk memotong anggaran Korea Utara dalam proyek pengembangan nuklir mereka.

"Jadi, saya pikir mereka lebih berbahaya saat ini karena progres yang telah dibuat oleh Korea Utara," ujar Bolton.

Ia juga menambahkan bahwa jika Joe Biden memenangi Pilpres AS nantinya, menangani Korea Utara akan menjadi tugas sulit yang akan diemban oleh pemerintahan Joe Biden.

Bolton juga menyoroti ketegangan yang terus meningkat dalam hubungan Taiwan dengan China Daratan, dan persepsi AS terhadap Beijing.

"China adalah pertanyaan yang lebih besar, sebuah pertanyaan yang lebih eksis untuk Amerika Serikat," tambahnya.

Taipei saat ini tengah menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Washington, yang memicu munculnya protes keras dari Beijing. Seperti diketahui, China masih menganggap Taiwan sebagai wilayah kekuasaannya yang di kemudian hari akan kembali bersatu dengan mereka. Oleh karena itu, China menilai Taiwan tidak berhak untuk menjalin hubungan diplomatik dengan pihak internasional.

Sementara itu, meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik yang formal dengan Taiwan, Amerika Serikat menjadi pendukung terkuat mereka dan pemasok terbesar sektor pertahanan dan persenjataan militer mereka.

"Apa yang sangat diinginkan oleh China adalah Taiwan jatuh ke pangkuan mereka seperti buah yang telah matang," kata Bolton.

"Mereka tidak menginginkan perang, mereka tidak ingin Taiwan hancur. Namun disisi lain, mereka sangat ingin Taiwan untuk kembali. Namun masyarakat Taiwan tidak mnginginkan untuk kembali," tukasnya.

China, Kuba dan Rusia Terpilih Jadi Negara Anggota Dewan HAM PBB

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia