logo


Aliansi Negara Amerika Latin Desak Komunitas Internasional Tak Akui Hasil Pemilu Venezuela

The Lima Group meminta komunitas internasional untuk tidak mengakui hasil pemilu parlemen Venezuela yang digelar pada Desember mendatang. Mereka menilai pemilu tersebut penuh dengan kecurangan

14 Oktober 2020 16:30 WIB

Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro istimewa

MEKSIKO CITY, JITUNEWS.COM - Sejumlah negara Amerika Latin yang tergabung dalam aliansi The Lima Group mendesak komunitas internasional untuk tidak mengakui hasil pemilu parlemen Venezuela yang akan digelar pada 6 Desember mendatang. Hal tersebut disampaikan dalam sebuah pernyataan tertulis yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Kolombia pada Rabu (14/10).

"Deklarasi The Lima Group ini juga menjadi pesan untuk komunitas internasional mengenai perlunya untuk menghentikan kecurangan pemilu yang dilakukan oleh rezim Venezuela," demikain bunyi pernyataan dikutip dari Sputnik News.

Sejumlah menteri luar negeri dari kelompok aliansi tersebut juga mengutarakan penolakan mereka atas pemilu parlemen Venezuela yang digelar tanpa "jaminan demokrasi" dan menekankan bahwa sistem demokrasi di Venezuela sangat mungkin untuk dipulihkan jika pemilu parlemen ataupun pilpres tersebut terjamin kebebasannya.


Dituduh Kirim Agen Mata-mata ke China, Begini Reaksi Perdana Menteri Taiwan

Mereka juga meminta Pengadilan Internasional untuk terlibat dalam menghentikan adanya upaya pelanggaran HAM yang dilaporkan oleh Badan Pencari Fakta Internasional yang didukung oleh PBB di Venezuela.

The Lima Group dibentuk pada tahun 2017 lalu dengan tujuan untuk menyelesaikan krisis politik yang terjadi di Venezuela. Kelompok aliansi tersebut beranggotakan sejumlah negara di benua Amerika seperti Argentina, Brazil, Kanada, Kolombia, Kosta Rika, Chile, Guyana, Guatemala, Honduras, Meksiko, Panama, Paraguay, Peru dan Saint Lucia.

Sebagian besar negara anggota kelompok tersebut diketahui mendukung pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido yang memproklamirkan diri sebagai presiden Venezuela dan mengorganisir aksi protes anti-pemerintahan pada bulan Januari 2019 lalu. Sedangkan Rusia, China dan Turki merupakan beberapa diantara negara yang mengakui Nicolas Maduro sebagai presiden Venezuela yang resmi.

FBI Tak Dapat Simpulkan Penyebab Ledakan Pelabuhan Beirut

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia