logo


Inggris dan Kanada Kompak Jatuhkan Sanksi pada Presiden Belarus Alexander Lukashenko

Pemerintah Inggris dan Kanada menjatuhkan sanksi atas pemerintah Belarus karena melakukan kecurangan pada hasil pemilu dan tindakan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa

30 September 2020 12:09 WIB

Alexander Lukashenko dan Vladimir Putin
Alexander Lukashenko dan Vladimir Putin the Guardian

LONDON, JITUNEWS.COM - Pemerintah Inggris dan Kanada akhirnya menjatuhkan sanksi berupa pembekuan aset dan larangan perjalanan terhadap Presiden Alexander Lukashenko dan sejumlah pejabat pemerintahan Belarus pada Selasa (29/9). Kedua negara tersebut menuding pemerintahan Belarus telah berbuat kecurangan atas hasil pemilu dan melakukan tindak kekerasan terhadap para demonstran.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan Lukashenko telah melakukan "sebuah tindakan pelanggaran hak asasi manusia dan kecurangan terhadap pemilu (Belarus)."

"Kami tidak bisa hanya menerima sebuah keadaan dimana tindakan pelanggaran HAM dan kecurangan yang dilakukan oleh Alexander Lukashenko dan Vladimir Putin dapat berlalu begitu saja kecuali mereka bertanggung jawab atas hal itu," kata Raab dikutip dari Reuters pada Rabu (30/9).


90 Persen Populasi Nepal Segera Dapatkan Vaksin Covid-19 Buatan Rusia

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kanada François-Philippe Champagne mengatakan: "Penyelesaian dimana kami harus berdiri dengan rakyat Belarus tidak akan berhenti disini. Ini adalah langkah pertama. Kami akan terus bekerjasama dengan rekan-rekan internasional kami untuk melihat apa lagi yang perlu dilakukan, yang kemungkinan mencakup adanya sanksi tambahan."

Pada Selasa (30/9), Otoritas Belarus membredel salah satu kantor berita terbesar Belarus, TUT.BY. Meski demikian, namun para pegawai di kantor berita tersebut mengatakan bahwa mereka akan terus beroperasi.

"Hari ini, pemerintah telah mendkumentasikan bahwa mereka telah merampas hak rakyat Belarus untuk mendapatkan kebenaran," kata Svetlana Tikhanovskaya, pemimpin oposisi Belarus pada Selasa (29/9).

Sudah Terlambat bagi Negara Barat untuk Hentikan Laju Pengaruh China

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia