logo


WHO Sebut Tidak Ada Pilihan antara Kesehatan Masyarakat dan Perekonomian

Tedros Ghebreyesus meminta pemerintah negara di seluruh dunia untuk mencontoh langkah penanganan beberapa negara yang berhasil mengendalikan wabah COvid-19

18 September 2020 15:53 WIB

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus national geographic Indonesia

JENEWA, JITUNEWS.COM - Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Kamis (17/9) mengatakan bahwa keputusan untuk menerapkan lockdown versus pembukaan perekonomian sebagai pilihan antara kesehatan masyarakat dan perekonomian merupakan dikotomi yang keliru.

"Itu merupakan pilihan yang keliru," katanya dikutip dari CNA.

Ia menegaskan bahwa pertama, pemerintah harus memprioritaskan untuk menutup semua tempat umum yang berpotensi memicu terjadinya kerumunan orang, seperti stadion, tempat hiburan malam. Kedua adalah harus melindungi semua pihak yang rentan terhadap infeksi tersebut untuk mencegah tingginya angka kematian dan mengurangi beban sistem layanan kesehatan.


Lakukan Sosial Distancing dalam Pertandingan, Klub Sepakbola Jerman Ini Kalah 37-0

Langkah ketiga adalah melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat perihal pentingnya menjaga jarak, kebersihan tangan, etika bersin dan batuk serta penggunaan masker untuk mencegah penularan. Sementara langkah terakhir adalah segera menemukan dan mengisolasi semua orang yang terinfeksi Covid-19 dan melakukan pelacakan kontak.

"Ada banyak contoh negara yang efektif mencegah atau mengedalikan wabah (Covid-19) yang terjadi dengan menggunakan empat langkah ini, dan melakukannya dengan baik," kata Tedros.

Ia menyebut beberapa negara tersebut diantaranya Selandia Baru, Islandia, Senegal, Mongolia, dan Singapura.

"Persamaan dari negara-negara tersebut adalah mereka sangat berkomitmen untuk bersatu secara nasional dan solidaritas global," tambahnya.

Ia mengingatkan bahwa Covid-19 ini bukanlah pandemi terakhir yang akan dihadapi oleh umat manusia. Oleh karena itu, ia meminta seluruh negara di dunia untuk bersiap menghadapi wabah penyakit yang nantinya akan melanda di kemudian hari.

"Dalam waktu 20 tahun terakhir, negara-negara telah melakukan persiapan besar-besaran untuk (mencegah) serangan teroris namun masih kurang persiapan untuk mencegah serangan virus, yang terbukti dapat jauh lebih mematikan, merusak dan berdampak sangat mahal," tukasnya.

AS Tuduh Hizbullah Timbun Senjata dan Ammonium Nitrat di Eropa

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia