logo


KPU Sebut 25 Dapil Pilkada 2020 Lawan Kotak Kosong, Perludem: Anomali

Perludem menilai meningkatnya calon tunggal di sejumlah dapil besar di Indonesia terjadi karena Parpol tak mau merugi

15 September 2020 11:30 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan bahwa bahwa 25 daerah yang menggelar Pilkada tahun 2020 ini berpotensi hanya menampilkan satu calon saja, atau yang sering disebut dengan istilah melawan kotak kosong.

"Jumlah daerah yang terdapat calon tunggal sebanyak 25 Kabupaten/kota," kata Komisioner KPU Ilham Saputra dalam keterangan tertulisnya pada Senin (14/9) dikutip dari Pikiran Rakyat pada Selasa (15/9).

Ia mengatakan bahwa Pilkada tahun 2020 akan diikuti oleh 738 bakal pasangan calon yang terdiri dari 25 pasangan calon gubernur dan wakil gubernur serta 612 pasangan calon bupati dan wakil bupati.


Soal Ajakan 'Sekamar Saja' Calon Wawalkot Depok, PKB: Calon Pemimpin Kok Begitu

"Kemudian jumlah bakal pasangan calon wali kota dan wakil wali kota sebanyak 101," ujar Ilham.

"Sisanya jumlah bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati/ bakal pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yang melalui jalur perseorangan sebanyak 66," ucap dia.

Ilham juga mengatakan bahwa pihaknya mengingatkan partai politik, bakal pasangan calon dan pemilih untuk tetap mematuhi dan melaksanakan protokol kesehatan ditengah situasi wabah Covid-19, khususnya pada setiap pelaksanaan tahapan Pilkada 2020.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai peningkatan jumlah calon tunggal di sejumlah wilayah, terutama di daerah pemilihan besar, merupakan sebuah hal yang sangat aneh.

“Indonesia anomali calon tunggal terjadi di dapil (daerah pemilihan) besar dan eksistensi parpol itu dipertaruhkan,” kata Titi dikutip dari laman Perludem.

Titi menilai hal tersebut disebabkan karena partai politik tidak mau merugi mengingat modal yang digunakan untuk mengusung pasangan calon tidak lah sedikit.

“Daripada keluar uang lalu kalah, lebih baik membangun konsesus politik dengan calon yang punya elektabilitas kuat,” ujar dia.

Sering Bikin Gaduh, Novel Bamukmin Minta Gerindra Depak Arief Poyuono

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia