logo


Program Pelatihan Wirausaha Kuliner untuk Penyandang Tuli, Teten Masduki: Bangun Sistem Ekonomi Inklusif

Pemerintah Dorong Transformasi Gerakan Sosial Ke Bentuk Kewirausahaan Sosial

14 September 2020 10:45 WIB

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (tengah) pada acara penutupan program pelatihan wirausaha berbasis kuliner untuk para penyandang tuli
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (tengah) pada acara penutupan program pelatihan wirausaha berbasis kuliner untuk para penyandang tuli kemenkopukm

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Teten Masduki, menyampaikan pesan secara tegas dan mendorong agar gerakan sosial pada saat ini busa bertransformasi ke dalam bentuk kewirausahaan sosial. Menurutnya, hal inilah yang akan menjadi basis keadilan ekonomi, terutama pada saat masyarakat tengah melakukan pemulihan ekonomi di era pandemi Covid 19.

Hal itu disampaikan pada acara penutupan program pelatihan wirausaha berbasis kuliner untuk para penyandang tuli, yang diselenggarakan oleh Perempuan Tangguh Indonesia (PTI). PTI sendiri telah menyelenggarakan pelatihan wirausaha kuliner ini sejak tanggal 8 Agustus 2020 dengan menggandeng Sekolah Highscope Indonesia Bintaro Care.

Menkop Teten selanjutnya menyatakan dukungannya terhadap program pelatihan kewirausahaan yang digagas PTI.

"Karena memang pemerintah sedang mempersiapkan sebuah kebijakan afirmatif (affirmative action policy) untuk kelompok masyarakat penyandang disabilitas, agar mereka dapat berpartisipasi dan agar terbangun sistem ekonomi inklusif sebagaimana telah diperkenalkan oleh Presiden RI. Sehingga program pelatihan kewirausahaan yang digagas PTI ini selaras dengan program yang dicanangkan oleh pemerintah dalam membangun sistem ekonomi inklusif ini," ujar Teten di Jakarta, melalui siaran pers yang diterima oleh redaksi Jitunews pada Senin (14/9).


Penerima BLT Jangan Belanja Produk Impor! Ini Alasannya



Menkop Teten selanjutnya menuturkan bahwa upaya mencapai keadilan sosial memang harus berbasis pada gerakan sosial yang bertransformasi menjadi kewirausahaan sosial atau social entrepreneur.

“Mengapa demikian? Agar dari gerakan sosial ini lahir kekuatan ekonomi yang pada gilirannya akan membuat gerakan sosial lebih sustainable dan berdampak pada kemajuan masyarakat. Salah satu yang harus juga diperhatikan adalah gerakan ini harus mampu memutus rantai kemiskinan pada kelompok masyarakat rentan, dengan upaya serius untuk mencegah terputusnya Pendidikan untuk anak-anak dan remaja. Karena hanya dengan pendidikanlah maka rantai kemiskinan akan terputus dan generasi masyarakat selanjutnya akan lebih sejahtera dan mandiri," tuturnya.

Menurutnya, pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai media, baik Pendidikan formal maupun pelatihan vokasional.

“Saya menyambut baik upaya PTI untuk menyelenggarakan pelatihan dengan target penyandang disabilitas, karena tanpa dukungan berbagai pihak, mereka tidak akan dapat bertahan dari berbagai kompetisi yang ada dalam masyarakat. Dengan perkembangan teknologi Informasi dan Komunikasi sekarang ini, mengembangkan kewirausahaan sosial bukanlah hal yang sulit, karena sumber daya dukung termasuk dukungan finansial juga bertransformasi," sebutnya.

Sementara itu, Koordinator Pelatihan Kewirausahaan untuk Penyandang Tuli PTI, Yenee Krisnandari menjelaskan bahwa pelatihan yang telah diselenggarakan sejak tanggal 8 Agustus ini terdiri dari serangkaian kegiatan latih dari mulai pertemuan tatap muka, penumbuhan motivasi yang disampaikan oleh pemateri Dimas, seorang tunanetra yang saat ini aktif membangun komunitas kartunet melalui platfrom onlinenya.

Pelatihan selanjutnya juga dilanjutkan dengan praktek bersama 2 Chef professional, didukung oleh Silafara Carter Catering dengan kelas daring bertopik membuat kemasan menarik, kemudian dasar-dasar mengatur keuangan bisnis oleh Hydansyah, hingga pemasaran digital yang disampaikan oleh Lil Hasnah.

“Hari ini merupakan penutupan acara pelatihan, dan kami telah mulai melakukan pemasaran dari produk teman-teman penyandang tuli ini. Respon masyarakat untuk membeli produk mereka sangat membanggakan, terutama upaya dari ibu-ibu yang tergabung dalam PTI untuk ikut mempromosikan produk ini. Kehadiran pak Menteri Koperasi & UKM juga sungguh membuat teman-teman penyandang tuli menjadi sangat optimis bahwa pemerintah memperhatikan dan memberikan dukungan bagi mereka," ungkapnya.

Seusai penutupan kegiatan pelatihan, acara dilanjutkan dengan sesi demo dessert cake yang dipraktekkan langsung oleh Chef Ikra dari Modena, dan prosesi Wisuda sekaligus pemberian sertifikat pelatihan dan goodie bag dari Modena.

“Kegiatan ini sangat positif dan kami senang memberikan dukungan, memberikan semua yang terbaik sehingga para peserta semakin bersemangat dan bisa bermimpi lalu bersemangat untuk mewujudkannya,” ujar Lany Kwarso dari Modena Indonesia.

Ketua Umum PTI, Myra Winarko, menyampaikan bahwa pelatihan wirausaha berbasis kuliner angkatan pertama yang didukung oleh Modena menjadi bukti bahwa PTI telah mengusung program yang tepat untuk terus memberdayakan teman-teman disabilitas dengan harapan mereka mampu menjadi SDM yang kaya akan keterampilan di bidang kuliner, mampu bersaing, dan mandiri secara finansial.

"Ini akan menjadi model utama gerakan sosial Perempuan Tangguh Indonesia, yaitu gerakan sosial yang bertransformasi menjadi berbagai kewirausahaan sosial, yang berdampak terhadap kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa," pungkasnya.

Revisi UU BI, Pengamat: Akan Menghancurkan Sistem Moneter Indonesia

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia