logo


Seorang Anak Penyandang Autis Ditembak Polisi AS

Petugas kepolisian Glendale, Utah, Amerika Serikat, menembak seorang anak 13 tahun penderita Autisme

9 September 2020 20:00 WIB

Ilustrasi Polisi Amerika Serikat
Ilustrasi Polisi Amerika Serikat ABC News

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Seorang anak laki-laki usia 13 tahun di Glendale, Utah, ditembak beberapa kali oleh sejumlah petugas kepolisian. Insiden tersebut terjadi usai sang ibunda menelepon layanan darurat 911 guna mendapatkan pertolongan untuk sang anak yang kondisinya kesehatan mentalnya tengah mengalami masa krisis.

Linden Cameron, anak yang terlahir dengan sindrom Asperger tersebut saat ini berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif akibat luka tembak yang ia derita. Sindrom Asperger sendiri merupakan salah satu bentuk dari Autisme.

Sang ibu, Golda Barton, awalnya meyakini bahwa petugas kepolisian yang datang ke rumahnya pada Jumat malam pekan lalu akan mengerahkan upaya seminimal mungkin untuk menenangkan anaknya yang saat itu tengah dilanda kemarahan. Barton mengatakan bahwa ia sebelumnya memberitahu petugas layanan 911 bahwa anaknya perlu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan atas kesehatan mentalnya.


Lukashenko dan Putin Janjian Ketemu, Bahas Kerja Sama Energi dan Konflik Eropa

Barton mengatakan bahwa anaknya mengalami krisis mental usai Barton kembali bekerja di kantor setelah hampir satu tahun berada di rumah. Barton meyakini jika anaknya tengah mengalami kecemasan saat terpisah dari dirinya.

"Ia (Linden) tidak bersenjata, ia tidak memiliki apa-apa, ia hanya marah dan mulai berteriak," kata Barton dikutip dari BBC News pada Rabu (9/9).

"Ia hanya seorang anak yang berusaha untuk mendapatkan perhatian. Ia tak tahu bagaimana untuk melakukannya," tambahnya.

Sementara itu, dalam sebuah konferensi pers, perwakilan pihak kepolisian, Sersan Keith Horrocks, mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan investigasi terkait insiden tersebut.

Horrocks mengatakan bahwa polisi terpaksa menembak bocah tersebut karena telah mengancam petugas yang datang, dan berlari untuk melarikan diri.

Insiden tersebut membuat banyak pihak bersimpati dan melakukan penggalangan dana secara online lewat sebuah situs untuk biaya perawatan Linden Cameron.

"Dampak jangka panjang dari luka yang ia derita sejauh ini masih belum diketahui, namun tampaknya proses pemulihannya akan memakan waktu yang lama dan diperlukan beberapa macam perawatan," kata situs penggalangan dana tersebut.

Menurut data yang dihimpun oleh kantor berita Washington Post, sejak tahun 2015 lalu setidaknya ada 1,254 orang yang memiliki gangguan mental telah ditembak mati oleh petugas polisi AS. Jumlah itu hanyalah 22 persen dari semua orang yang ditembak mati oleh polisi di seluruh AS dalam periode tersebut.

AS Blokir Semua Produk Impor dari Xinjiang, China Siapkan Aksi Balasan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia