logo


Arteria Dahlan: Kakek Saya Pedagang Textile di Tanah Abang

Arteria menjelaskan bahwa kakeknya adalah seorang pedagang textile di Tanah abang yang datang ke Jakarta pada tahun 1950.

9 September 2020 18:45 WIB

istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Politisi PDI Perjuangan, Arteria Dahlan membantah tudingan Hasril Chaniago yang menyebut bahwa kakek Arteria Dahlan adalah pendiri PKI di Sumatera Barat (Sumbar).

Arteria menjelaskan bahwa kakeknya adalah seorang pedagang textile di Tanah abang yang datang ke Jakarta pada tahun 1950.

“Tidak benar saya cucu seorang tokoh PKI. Kakek saya dari pihak ibu: H. Wahab Syarif, seorang pedagang textile di Tanah abang, masuk Jakarta tahun 1950. Tempat berlabuhnya para perantau minang saat tiba di Jakarta sebelum mereka memiliki rumah sendiri,” ujar Arteria di Jakarta, Rabu (8/9/2020).


Tak Terima Dituding Keturunan PKI, Arteria Dahlan: Telepon Pak Hasril Suruh Ngeralat!

Arteria menambahkan bahwa neneknya merupakan ibu rumah tangga biasa yang memiliki tujuh anak.

“Nenek saya, Hj. Lamsiar, ibu rumah tangga biasa, yang melahirkan 7 anak, 6 jadi pedagang di tabah abang dan satu berprofesi guru. Hj. Wasniar merupakan guru SD perguruan Cikini, lalu menjadi guru tata boga di SMKN 30 Pakubuwono Jaksel. Dialah Ibunda saya,” terang Arteria.

Sementara kakek dari pihak ayah bernama H. Dahlan bin Ali merupakan pedagang di Sumatera Barat. Sedangkan istrinya bernama Hj. Dahniar Yahya atau biasa disebut Ibu Nian adalah tokoh masjumi, satu-satunya guru mengaji di Kukuban Maninjau yang mengajar lebih dari 50 tahun lamanya sampai tahun 1983.

“Beliau guru ngaji 3 generasi. Seluruh orang Maninjau di Kukuban pernah mengaji ke Bu Nian,” tuturnya.

“Ibu Nian pernah ditahan oleh pemerintahan Sukarno karena diduga terlibat PRRI saat itu,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Arteria juga menjelaskan bahwa ayahnya adalah seorang guru di beberapa SMA dan Ketua salah satu yayasan pendidikan swasta.

Ayahnya yang bernama H. Zaini Dahlan, Pernah mendaftar Akpol namun ditolak karena terindikasi Masjumi dan PRRI.

“Ayah saya lama di Jogja karena sempat kuliah di Farmasi UGM, sempat pula mengajar di SMA Muhammadiyah Jogjakarta,” tuturnya.

Anggota Komisi III DPR RI ini mengungkapkan bahwa ayahnya adalah korban politik orde lama.

Menurut Arteria, Ayahnya sempat keberatan ketika mengetahui dirinya bergabung ke PDI Perjuangan.

“Tapi setelah beberapa lama, justru dia (ayah) yang ikut aktif kampanye PDIP di Sumbar di tahun 2009. Sayang ayah tidak melihat saya seperti sekarang ini karena sudah almarhum,” ungkapnya.

Arteria menegaskan memang ada tokoh PKI dari Maninjau yang bernama Bakhtarudin, namun tidak ada hubungannya sama sekali dengan sisilah keuarganya.

“Tidak ada hubungan kekeluargaan antara Bakhtarudin dengan kakek dan nenek saya, baik dari pihak ayah maupun ibu,” tegas Arteria.

Bantah Kakeknya Pendiri PKI, Arteria Dahlan Ingin Laporkan Penuduh

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar