logo


Menko PMK: Merokok Adalah Faktor Defisit Nilai Budaya Indonesia

Rokok disebut sebagai penghambat kemajuan budaya Indonesia

27 Agustus 2020 16:45 WIB

Menko PMK Muhadjir dalam Rapat Koordinasi tingkat menteri membahas progres penyaluran bantuan sosial di Kantor Kemenko PMK, pada Selasa (25/8).
Menko PMK Muhadjir dalam Rapat Koordinasi tingkat menteri membahas progres penyaluran bantuan sosial di Kantor Kemenko PMK, pada Selasa (25/8). Kemenko PMK

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa rokok adalah salah satu penghambat kemajuan budaya Indonesia. Pasalanya, merokok adalah perilaku yang bisa mengurangi nilai-nilai budaya bangsa.

"Salah satu faktor perintang untuk memajukan budaya kita, juga kebiasaan merokok. Perilaku merokok adalah faktor defisit dari nilai-nilai budaya yang kita miliki," kata Muhadjir Effendy saat saat menjadi pembicara di kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia, Kamis (27/8/2020).

Muhadjir mengingatkan terkait dampak negatif yang ditimbulkan dari rokok. Ia menjelaskan bahwa dampak buruk rokok sudah mulai terasa pada 1000 hari kehidupan anak, yakni saat janin masih dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Orang tua yang merokok, kata Muhadjir sangat memberi dampak negatif bagi tumbuh kembang anak.


PJJ Dinilai Masih Minus, Muhadjir Sebut Pengelola Pendidikan Harus Berani Melakukan Terobosan

"Karena ketika suami jadi perokok, ibunya walau tidak merokok tapi dia akan jadi perokok pasif dan itu berpengaruh terhadap perkembangan janin yang ada di dalam kandungan ibu," jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa perokok sebagian besar adalah kalangan menengah ke bawah. Sementara yang mendapat keuntungan hanya segelintir orang atau perusahaan rokok.

 

Pemerintah Kampanye Sadar Masker Lewat Penyaluran Bansos ke Masyarakat

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati