logo


AS Desak PBB Lanjutkan Sanksi kepada Iran, China: Pemikiran Konyol

China menolak rencana AS untuk mendesak PBB agar memunculkan kembali mekanisme snapback guna menjatuhkan sanksi embargo senjata kepada Iran

22 Agustus 2020 18:52 WIB

Menteri Luar Negeri China Wang Yi
Menteri Luar Negeri China Wang Yi China Daily

BEIJING, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menilai langkah Amerika Serikat yang terus mendesak agar sanksi embargo senjata Iran kembali diperpanjang adalah hal yang tidak beralasan.

Pada Kamis (20/8), Amerika Serikat secara formal meminta PBB untuk mengeluarkan mekanisme 'snapback' dibawah kesepakatan nuklir tahun 2015 yang memungkinkan Iran untuk kembali mendapatkan sanksi embargo senjata. AS menuding Iran telah berulang kali melanggar kesepakatan tersebut.

Dalam sebuah konferensi pers usai menggelar pertemuan dengan Menlu Pakistan Shah Mahmoud Qureshi, Wang Yi mengatakan bahwa rencana AS tersebut sangatlah konyol. Ia mengatakan bahwa sangat tidak masuk akal bagi AS yang mengundurkan diri dari kesepakatan tahun 2018 untuk menginisiasi mekanisme tersebut saat ini.


Badai Petir Picu Kebakaran Hutan Besar di California

"Ini tidak hanya mengabaikan hukum internasional, namun juga meminta negara lain untuk mengabaikan hukum tersebut, dan bahkan mengancam untuk menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang tunduk terhadap hukum internasional," kata Wang dikutip dari South China Morning Post pada Sabtu (22/8).

"Lalu darimana datangnya pemikiran konyol tersebut?" tambah Wang.

Inggris, Perancis, dan Jerman diketahui juga menolak rencana AS tersebut. Mereka menilai AS tidak memiliki hak untuk melakukannya.

Wang Yi mengatakan bahwa permintaan untuk memunculkan kembali mekanisme 'snapback' tersebut dapat membahayakan kredibilitas hukum internasional.

"AS hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Mereka hanya menerima kesepakatan internasional jika itu menguntungkan mereka dan menolaknya jika tidak sesuai dengan kepentingannya," tukas Wang Yi.

Pasca Insiden Ledakan Beirut, Warga Lebanon Eksodus Besar-besaran

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia