logo


Covid-19 Seret Perekonomian Jepang ke Titik Terendahnya sejak Empat Dekade Lalu

Menurunnya PDB Jepang tahun ini disebabkan karena rendahnya tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat di tengah situasi Pandemi Covid-19

17 Agustus 2020 14:17 WIB

Tokyo saat diberlakukan status darurat nasional akibat wabah Covid-19
Tokyo saat diberlakukan status darurat nasional akibat wabah Covid-19 Asia Times

TOKYO, JITUNEWS.COM - Menurunnya daya beli masyarakat, penjualan kendaraan bermotor dan banyak komoditas ekspor di tengah situasi pandemi Covid-19 membuat perekonomian Jepang pada kuartal ketiga ini semakin merosot jika dibandingkan dengan kuartal kedua tahun 2020 kemarin. Hal tersebut memaksa pemerintah untuk lebih meningkatkan upaya mereka dalam mengambil kebijakan guna mencegah adanya resesi perekonomian yang lebih dalam.

Dalam tiga kuartal secara beruntun, Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang mengalami penurunan terparah dalam sepuluh tahun terakhir ini. Hal tersebut menyapu bersih semua progres yang telah dibuat oleh Perdana Menteri Shinzo Abe sejak tahun 2012 silam.

"Penurunan yang sangat besar ini dapat dijelaskan dengan berkurangnya tingkat konsumsi dan ekspor Jepang," kata Takeshi Minami, salah satu ekonom pada Institut Riset Norinchukin, dikutip dari Reuters pada Senin (17/8).


Jalin Kesepakatan dengan Israel, Presiden Iran Sebut UEA Buat Kesalahan Besar

Negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia tersebut mengalami penurunan sebesar 27,8% dibandingkan dengan tahun lalu. Hal tersebut merupakan yang terburuk yang pernah dialami oleh Jepang sejakn tahun 1980 atau empat dekade yang lalu.

Meskipun kontraksi ekonomi Jepang masih lebih rendah dari AS yang mencaai 32.9%, namun hal tersebut lebih buruk dibanding catatan pada kuartal pertama tahun 2009 yang mengalami penurunan hanya 17.8%.

PDB Jepang saat ini menyusut hingga 495 trilun yen, atau yang paling rendah sejak April-Juni 2011, saat Jepang saat itu masih menderita dari deflasi dan stagnansi perekonomian selama 20 tahun sebelumnya.

Kasus Covid-19 Kembali Muncul di Auckland, Selandia Baru Tunda Pemilu

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia