logo


Pilkada 2020 Diprediksi Muncul 31 Calon Tunggul, PAN: Jadi Preseden Buruk

Pilkada adalah kompetisi tentang visi dan misi antarkepala daerah. Dia menilai banyaknya calon tunggal tersebut menyebabkan tidak terwujudnya substansi pilkada.

10 Agustus 2020 12:42 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Anggota Komisi II DPR, Guspardi Gaus mengaku prihatin dengan banyaknya calon tunggal yang berpotensi melawan kotak kosong pada pemilihan kepala daerah (pilkada) pada 9 Desember 2020 mendatang.

"Ini menurut saya merupakan preseden buruk dalam rangka pendidikan politik dan pendidikan demokrasi," kata Guspardi di Jakarta, Senin (10/8/2020).

Pilkada adalah kompetisi tentang visi dan misi antarkepala daerah. Dia menilai banyaknya calon tunggal tersebut menyebabkan tidak terwujudnya substansi pilkada.


NasDem Ngaku Tidak Tahu Wahyu Purwanto Adik Ipar Jokowi

"Karena yang dihadapi kotak, kotak artinya dia tidak punya otak, dia tidak punya visi dan misi, padahal kita punya penduduk terbesar, empat terbesar dunia,” tuturnya.

Menurut Guspardi, adanya kemungkinan calon tunggal di daerah 31 daerah tersebut membuktikan bahwa upaya untuk melakukan pendidikan politik, dan demokasi tersebut telah mengalami pasang surut dalam memilih pemimpin masa depan.

Dan ini juga sebagai pertanda demokrasi itu tidak sehat. Menurutnya perlu ada terobosan yang dilakukan melalui undang-undang yang berkaitan pilkada atau pemilu.

Fenomena calon tunggal yang melaju sendiri alias menghadapi kotak kosong di pilkada menambah daftar metode culas yang berdampak buruk bagi demokrasi tersebut. Guspardi mendesak agar cara seperti itu tak dilakukan jika ingin membangun daerah dengan baik.

Politisi PAN ini pun menegaskan kalah dan menang tak bisa dijadikan esensi utama dalam pilkada.

Tapi, menghadirkan khazanah demokrasi yang lurus dan bersih agar tercipta pendidikan politik masyarakat yang baik adalah esensi yang sebenarnya. Tujuannya dari semua itu adalah kesejahteraan masyarakat.

PAN adalah partai inisiator terhadap bagaimana persyaratan itu tidak dipersulit.

"Kian banyaknya calon tunggal tanda demokrasi yang tidak sehat. Turunkan threshold untuk pilkada itu salah satu cara. Syarat 5-10 persen kursi sudah cukup. Itu memudahkan banyaknya partai mencalonkan pasangan,” kata Guspardi Gaus

“Kita malu, masa yang menjadi lawan bukan yang berotak, tapi kotak," pungkasnya.

PAN Dukung Bobby Nasution dan Gibran Rakabuming di Pilkada

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar