logo


KKP Dorong Pemanfaatan Budidaya Ikan Sistem Bioflok

Budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi yang memicu peningkatan produktivitas

10 Agustus 2020 11:54 WIB

Launching budidaya ikan dengan sistem bioflok
Launching budidaya ikan dengan sistem bioflok KKP

SUKABUMI, JITUNEWS.COM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi selenggarakan webinar bertajuk “Penerapan Teknologi Bioflok pada Ikan Air Tawar” Rabu (29/7). Kegiatan ini diikuti oleh 787 peserta yang terdiri dari calon penerima bantuan budidaya ikan sistem bioflok tahun 2020, penyuluh dan dinas perikanan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, praktisi perikanan, akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto pada saat membuka acara webinar tersebut menyatakan bahwa berbagai keunggulan teknologi budidaya ikan sistem bioflok menjadikan sistem ini salah satu primadona di masyarakat, khususnya di kalangan pembudidaya ikan. Penerapan teknologi biofok semakin maju di masyarakat dengan adanya inovasi dan kreatifitas dari pembudidaya untuk mengembangkan teknologi ini lebih jauh.

“Dengan adanya dukungan penuh dari Presiden Joko Widodo, kita masuk di dalam era membangun kelautan dan perikanan di Indonesia. Budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi yang memicu peningkatan produktivitas perikanan budidaya yang secara otomatis juga menghadirkan peluang untuk keterlibatan masyarakat yang lebih banyak,” sebut Slamet.


Perkuat Struktur Ekonomi Pembudidaya Ikan, KKP Siapkan Program Prioritas 2021

Slamet juga mengajak pelaku usaha budidaya untuk terus mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan berbudidaya, baik dari segi lingkungan, sosial maupun dari segi ekonomi atau usahanya.

“Sejak diterapkan di masyarakat pada tahun 2015, dengan pengaplikasian yang tepat bioflok telah menjadi solusi jitu bagi pembudidaya untuk meningkatkan produktifitas serta perekonomian masyarakat. Bukan hanya bagi pembudidaya, namun juga perekonomian masyarakat sekitar seperti penjual peralatan pendukung seperti terpal, jaring, ember dan sebagainya,” jelas Slamet.

Slamet juga mendukung kreatifitas - kreatifitas yang dikembangkan dalam kegiatan bioflok seperti yang sekarang ini maraknya budidaya sayuran dengan lele serta sekarang ini marak juga berbagai model probiotik. “Kami dari pemerintah terus melakukan pengawasan serta pendataan terhadap produk probiotik yang digunakan sebagai bahan bioflok, sehingga kita bisa menjamin probiotik tersebut merupakan produk yang sudah terstandarisasi,” tambah Slamet.

“Semoga dengan adanya webinar ini semakin banyak lapisan masyarakat yang tertarik untuk budidaya ikan, pembudidaya mendapatkan manfaat serta pencerahan guna meningkatkan produktifitas, penyerapan tenaga kerja serta perekonomian bangsa,” pungkas Slamet.

Sementara itu Kepala BBPBAT Sukabumi, Supriyadi menghimbau kepada peserta webinar untuk memperhatikan dengan cermat mengenai persyaratan teknis dalam berbudidaya ikan sistem bioflok. Beberapa contoh kasus kegagalan yang ditemui di lapangan bermuara kepada kualitas dan sumber air, penggunaan benih yang kurang baik, dan ketidakstabilan suhu media pemeliharaan.

“Untuk memperbesar tingkat keberhasilan budidaya ikan sistem bioflok ini diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dan tekun dalam menjalaninya. Selain itu pembudidaya juga harus memperhatikan kondisi lapangan di daerah masing-masing dan pandai untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada,” lanjut Supriyadi.

Supriyadi berharap dengan diadakannya webinar ini dapat menjadi media pembelajaran khususnya bagi calon penerima bantuan tahun ini serta ajang berbagi pengalaman dari praktisi dan penerima bantuan tahun – tahun sebelumnya. “Semoga ilmu dan pengalaman yang disajikan dapat dikupas tuntas dan diadopsi dengan baik oleh seluruh peserta webinar ini,” tutup Supriyadi.

Sebagai informasi, pada tahun 2019 KKP telah menggelontorkan 260 paket bantuan budidaya ikan lele/nila sistem bioflok yang tersebar di 32 provinsi dan 121 Kabupaten/Kota dengan nilai bantuan mencapai 44 milyar rupiah. Untuk tahun 2020 KKP berencana akan kembali mendistibusikan bantuan sebanyak 371 paket dengan nilai bantuan mencapai 73.4 milyar rupiah.

Restocking Benih Ikan Budidaya, Jurus Jitu Penuhi Ketahanan Pangan Nasional

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan