logo


Kunjungi Lokasi Ledakan Beirut, Presiden Perancis Jamin Bantuan Tidak Berada di Tangan Koruptor

Presiden Emmanuel Macron, kepada warga Beirut menegaskan bahwa bantuan yang ia kirim tidak akan berada di tangan koruptor

7 Agustus 2020 15:01 WIB

Presiden Perancis Emmanuel Macron berinteraksi dengan warga Beirut
Presiden Perancis Emmanuel Macron berinteraksi dengan warga Beirut the guardian

BEIRUT, JITUNEWS.COM - Warga Beirut yang marah mendesak Emmanuel Macron untuk membantu dalam membawa perubahan politik di Lebanon, saat presiden Perancis tersebut mengunjungi pelabuhan tempat terjadinya insiden ledakan dahsyat, dan kawasan sekitarnya.

Setelah pemerintah Lebanon mengumumkan status darurat hingga dua pekan mendatang, pasukan militer Lebanon memperketat penjagaan di lokasi ledakan yang menewaskan sedikitnya 157 orang, melukai ribuan warga dan merusak sebagian besar bangunan di Beirut. Kerugian material akibat insiden tersebut ditaksir mencapai USD 15 miliar.

Jumlah korban tewas diperkirakan masih akan terus bertambah seiring dengan proses investigasi yang berjalan di sekitar lokasi pelabuhan. Ledakan terbesar sepanjang sejarah Lebanon tersebut diduga kuat berasal dari salah satu gudang yang menimbun 2,750 ton senyawa ammonium nitrat pada hari Selasa lalu sekitar pukul 6 petang.


ByteDance Akan Bangun Pusat Data TikTok Eropa di Irlandia

Saat para relawan tengah membersihkan sisa-sisa kerusakan, dan puing-puing di seluruh kota, aksi protes muncul di seluruh penjuru Lebanon dan mendesak adanya revolusi pada pemerintahan.

Emmanuel Macron yang tengah meninjau kawasan Gemmayze, yang juga hancur karena ledakan, langsung diserbu oleh ratusan warga yang meminta pemerintah Lebanon untuk turun.

"Saya menjamin, bahwa bantuan tidak akan berada di tangan koruptor," kata Macron kepada warga, dilansir dari The Guardian pada Jumat (7/8).

"Saya akan berbicara kepada semua tokoh politik untuk meminta mereka kesepakatan politik yang baru. Saya disini hari ini untuk mengajukan hal itu kepada mereka," kata Macron.

Kematian Akibat Covid-19 di AS Diprediksi Meroket Hingga 300 Ribu pada Desember 2020

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia