logo


CEO Airfinity: Tidak Ada Cukup Vaksin Covid-19 untuk Semua Orang

Pengamat khawatir jika vaksin Covid-19 dimonopoli oleh beberapa negara

4 Agustus 2020 12:40 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sejumlah kandidat vaksin Covid-19 saat ini telah berhasil dikembangkan di seluruh punjuru dunia, dimana lebih dari 20 diantaranya kini telah memasuki tahap uji coba final. Meski demikian, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan jika tidak ada satu pun obat yang ampuh mengatasi penyakit yang telah menginfeksi lebih dari 18 juta dan menewaskan 700 ribu orang di seluruh dunia.

"Bahkan jika anda memiliki penilaian yang optimis atas progres penelitian tersebut, tidaka ada cukup vaksin virus Corona Covid-19 untuk semua orang di seluruh dunia," kata Rasmus Bech Hansen, CEO Airfinity, dikutip dari Sputnik pada Selasa (4/8).

Pernyataan tersebut muncul usai pakar kesehatan di seluruh dunia khawatir jika vaksin Covid-19 akhirnya dimonopoli oleh negara-negara kaya, dan membuat negara lainnya, terlebih negara dengan perekonomian yang lemah tidak mendapatkan pasokan.


Pompeo dan Taliban Bahas Negosiasi Damai di Afghanistan

Airfinity mengatakan bahwa Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Uni Eropa sejauh ini telah menandatangani kesepakatan untuk memastikan ketersediaan pasokan 1.3 miliar calon vaksin.

Meskipun sejumlah perusahaan dan negara pengembang vaksin telah menjanjikan bahwa vaksin Covid-19 tersebut akan didistribusikan untuk semua orang, namun sejumlah pakar kesehatan memperingatkan hal tersebut akan sangat sulit untuk direalisasikan mengingat penduduk dunia saat ini telah mencapai lebih dari 7.8 miliar orang. Airfinity memprediksi jika pasokan global tidak akan menyentuh 1 miliar dosis hingga kuartal pertama tahun 2022 mendatang.

Masalah tersebut akan lebih rumit jika negara yang telah menandatangani kesepakatan dengan vaksin tersebut sejauh ini belum mengetahui apakah kandidat vaksin tersebut efektif untuk digunakan dalam melawan infeksi Covid-19. Jika terbukti tidak efektif, maka hal tersebut jelas akan menambah panjang daftar antrian pasokan vaksin.

"Yang kita paling kita khawatirkan adalah mendapati adanya kekacauan dalam kesepakatan tersebut," kata Seth Berkley, CEO Gavi, aliansi vaksin internasional.

Muak dengan Krisis di Negaranya, Menteri Luar Negeri Lebanon Mundur

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia