logo


Minta Maaf ke NU dan Muhammadiyah soal POP, Nadiem Makarim Ingin Cari Jurus Terbaik untuk Pendidikan

Nadiem menyatakan pihaknya punya satu tujuan: mencari jurus dan pola terbaik untuk mendidik penerus negeri ini.

29 Juli 2020 05:00 WIB

Nadiem Makarim
Nadiem Makarim Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim telah menyampaikan permintaan maaf atas kebijakan Program Organisasi Penggerak (POP) yang menimbulkan kontroversi.

Nadiem secara khusus meminta maaf kepada ormas Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang memutuskan keluar dari program tersebut.

"Dengan penuh rendah hati saya mohon maaf," kata Nadiem Makarim, disiarkan di Youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Selasa (28/7).


Nadiem Dituding Pro Industri Rokok, Ahli: Ini Tidak Dapat Dibenarkan

Polemik tersebut membuat Nadiem mengambil langkah untuk menghentikan sementara proses POP pekan lalu. Ia mengevaluasi isu kelayakan penerima hibah POP dan memutuskan Tanoto Foundation dan Yayasan Putra Sampoerna tak menggunakan APBN sepeser pun.

"Partisipasi mereka dalam Kemendikbud tidak akan menggunakan dana APBN sepeser pun, mereka akan mendanai aktivitas programnya tanpa anggaran dari pemerintah," jelasnya.

Diharapkan keputusan ini dapat meredam kecemasan masyarakat. Nadiem menekankan hibah disalurkan ke organisasi yang lebih membutuhkan.

Tak lupa, Nadiem mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan ormas yang bersedia memberi kritik dan saran terhadap program yang digagas pihaknya itu.

"Saya juga mengucapkan apresiasi sebesar-besarnya kepada pihak NU dan Muhammadiyah dan PGRI. Ketga organisasi ini telah berjasa di dunia pendidikan, bahwakn jauh sebelum negara ini berdiri, tanpa pergerakan mereka dari sabang sampai merauke, identitas budaya dan misi dunia pendidkan di indonesia tak akan terbentuk," ujar Nadiem.

Mantan bos Gojek itu mengharapkan agar tiga organisasi yang berpengalaman tersebut kembali ke POP. Ia menyebutkan tujuan POP, yakni agar Kemendikbud dapat belajar ke Muhammadiyah, NU dan PGRI.

"Niat kami sejak awal untuk bermitra dan menemukan inovasi yang dapat digunakan oleh pemerintah dan diterapkan secara nasional," terang dia.

"Hanya satu tujuan kami: mencari jurus dan pola terbaik untuk mendidik penerus negeri ini," tukasnya.

Seperti diketahui, Program Organisasi Penggerakan merupakan kebijakan Kemendikbud untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan melibatkan peran ormas yang bergerak di bidang pendidikan. Dari hasil saring melalui riset, Kemendikbud menerima 156 organisasi peserta POP.

Organisasi ini akan menerima dana dukungan dari pemerintah mulai dari 1 miliar hingga 20 miliar per tahun.

Kritisi POP, Gerindra Sebut Nadiem Makarim Tak Peka Persoalan Rakyat

Halaman: 
Penulis : Iskandar