logo


Adaptasi Baru, Cegah Gelombang Kedua Covid-19

Presiden minta, bekerja cepat melalui test masif dan selektif

21 Juli 2020 10:14 WIB

Dr.Abidinsyah Siregar
Dr.Abidinsyah Siregar istimewa

Masyarakat dunia “tertekan” dengan ganasnya infeksi virus Covid-19 yang semakin hari semakin meningkat jumlah kasusnya diikuti dengan memburuknya keadaan sosial ekonomi.

Diberitakan pula bahwa dunia juga menghadapi ancaman kelaparan. Kepala Urusan Kemanusiaan dan Bantuan Darurat PBB (UN) Mark Lowcock dalam pernyataannya yang dilansir ABC News 17 Juli 2020 dan dikutip Kompas.com memperhitungkan lebih 265 juta orang terancam kelaparan pada sekitar 63 Negara rentan pada akhir tahun 2020 akibat pandemic Covid-19.
Dan dampaknya meluas merusak pembangunan berpuluh tahun.

Beberapa Negara baik yang sudah trend tenang maupun yang masih berjuang, kembali memberlakukan Pembatasan Sosial hingga Penguncian (Lockdown) seperti China, Singapore, Korea, Australia, Jerman dan banyak negara lainnya tanpa menunggu eskalasi kasus yang besar. Kekhawatiran terbesar adalah ancaman terjadinya Gelombang kedua.


Gunakan Masker Lawan Corona, Trump: Tak Ada yang Lebih Patriotik Daripada Saya

Presiden Jokowi pun sejak awal sudah mengingatkan kewaspadaan terhadap hal ini. Beliau sudah mewanti-wanti, “Saya ingatkan bahwa tugas besar kita belum berakhir. Ancaman Covid-19 masih ada, kondisi masih dinamis, ada daerah yang kasus barunya turun tetapi ada juga daerah yang kasus barunya meningkat. Dan perlu saya ingatkan jangan sampai terjadi gelombang kedua, second wave”.

Jakarta dikhabarkan segera memberlakukan PSBB kembali.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga merencanakan beberapa Kabupaten/Kota akan kembali memberlakukan PSBB.

KISAH TRAGIS GELOMBANG KEDUA

Seratus tahun yang lalu, Maret 1918, ketika Tentara Amerika Serikat akan diberangkatkan ke medan Perang Dunia I di Eropah. Saat masih di Camp Funston, Kansas, AS, seorang prajurit terkena demam influenza.
Uniknya influenza ini cepat menular dan lebih ganas. Tidak sampai sebulan lebih 1.000 prajurit terinfeksi influenza dan 38 orang tewas.

Hingga saat diberangkatkan ke Eropah, tidak ada yang menaruh perhatian dan curiga dengan fenomena inluenza tersebut, padahal sudah menyebar ke barak tentara lainnya.

Bagai jerami terbakar dimusim kemarau, influenza berjangkit luas di Inggris, Perancis, Spanyol dan Italia.  Ini dicatat sebagai gelombang pertama pandemik Flu-Spanyol.

Gelombang ini tampak tidak terlalu mematikan. Pada bulan Mei dan Juni 1918 lebih 12.000 prajurit yang terinfeksi, dan 53 orang meninggal.

Ahli, Militer dan Publik terpecah 2 pendapat, sebahagian besar menganggap epidemi hampir berakhir. Tetapi para Dokter (epidemiolog) yang peduli upaya eradikasi (pemusnahan) virus inluenza menilai bahwa dunia belum lepas dari ancaman sepanjang tentara masih ada yang demam inluenza tersebut.

Flu-Spanyol menyerang saluran pernafasan hingga paru dan menyebabkan pneumonia. Uniknya flu ini menyerang kelompok usia muda 25-35 tahun.

27 Agustus 1918, saat tentara Amerika yang ditarik mundur dari Eropah kembali tiba di Boston, Amerika Serikat ditemukan 1.500 prajurit sakit. Sebulan kemudian seperempat isi Kamp Tentara terinfeksi.

Dokter dan Petugas Kesehatan pun terinfeksi. Rumah Sakit kewalahan dan menolak pasien baru.

Hal yang sama terjadi lonjakan kasus di seluruh Eropa. Ini menandai terjadinya gelombang kedua pandemic Flu-Spanyol.

Dave Roos dari portal History mencatat dalam setahun 1918-1919, di Eropa terjadi kematian lebih 50 juta orang, dalam catatan lain hingga pertengahan 1920 persis 100 tahun yang lalu disebutkan kematian mencapai 100 juta orang. Di Amerika tercatat jutaan kematian.

Di Indonesia, kala itu disebut Hindia Belanda, kasus berawal di kota Pangkatan di Sumatera Utara/Tanah Deli pada pertengahan tahun 1918 yang dibawa oleh pelaut dari Singapura.

Gelombang kedua mulai Oktober-Nopember 1918 Flu-Spanyol telah menewaskan sekitar 1,5 juta orang di wilayah Deli, Batavia, Banten, Cirebon, Surabaya hingga Madura.

Gelombang pandemik Flu-Spanyol pada 1918-1920 sangat dipengaruhi sikap anggap enteng yang menilai flu-spanyol sebagaimana flu biasa.

Disamping keterbatasan tehnologi dan fokus banyak Negara pada kebutuhan peralatan perang.

APAKAH COVID-19 BISA GELOMBANG KEDUA

Dalam sesi Webinar “Membangun Komunikasi Publik” yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes pada 15 Juli 2020, Dirjen P2P Kemenkes Dr.Achmad Yurianto yang juga Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 ketika menjawab pertanyaan sekaitan dengan kemungkinan Gelombang Kedua, menjawab “kita belum bisa menduga kemungkinan itu, tetapi yang pasti yang gelombang pertama ini saja sudah panjang dan panjang sekali”.

Mr.Paul Ananth Tambyah, Presiden Asia-Pacific Society of Clinical Microbiology and Infection, menjelaskan bahwa negara yang paling beresiko terkena gelombang kedua Covid-19 ialah negara dengan penambahan kasus dan transmisi lokal yang terus meningkat setiap harinya dan mencapai ratusan bahkan ribuan, karena banyak rantai penyebaran di berbagai tempat yang belum terputus.

Lima negara yang diprediksi akan terkena gelombang kedua Covid-19 setelah pelonggaran pembatasan sosial yaitu India, Jepang, Korea Selatan, Pakistan dan Indonesia.

INDIA
Pada Jumat, 17 Juni 2020, dalam satu hari tercatat ada penambahan 13.586 kasus Covid-19 baru di India. Angka ini menjadikan India sebagai negara dengan lonjakan kasus baru tertinggi di dunia.

Hingga 18 Juli 2020, total kasus Covid-19 di India mencapai 1.050.000 dan setiap minggu urutan naik terus, dan kini menempati urutan ketiga tertinggi didunia dibawah Amerika Serikat dan Brazil. Total meninggal 26.500 orang dan sembuh 677.000 orang.

KOREA SELATAN
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea, setelah lama irit pertambahan kasus baru, pada 17 Juni 2020, Korea Selatan mencatat adanya penambahan 49 kasus baru. sehingga kini tercatat jumlah kasus Covid-19 di Korea Selatan ialah 13.700 kasus.

Profesor Lee Hoan-jong, Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul, mengatakan bahwa “Gelombang kedua Covid-19 tidak dapat dihindarkan, bisa terjadi kapan saja sampai vaksin bisa diedarkan secara luas”.

PAKISTAN
Pakistan juga diprediksi akan terdampak gelombang kedua Covid-19.
Saat ini Pakistan menempati urutan ke-12 dengan 262.000 kasus dengan pertambahan hampir 2.000 kasus pada 17 Juli 2020. Kematian 5.500 orang.

Kematian perhari dibawah 50 orang. Penanganan Kesehatan sudah cukup baik namun pertambahan kasus mengkhawatirkan, menunjukkan masyarakat kurang disiplin terhadap protokol Kesehatan.

JEPANG
Cukup mengherankan Jepang termasuk yang diprediksi terancam Gelombang kedua.  Saat ini Jepang berada pada urutan ke 56 dengan jumlah kasus baru terkonfirmasi sebanyak 580 orang pada 17 Juli 2020, ini lompatan besar penambahan kasus baru. Dalam sebulan terakhir dari 5.674 orang pada 18 Juni, kini tercatat sebanyak 23.470 orang.

Meningkatnya pertambahan kasus baru terinfeksi Covid-19, menurut Kazuhiro Tateda, Presiden Asosiasi Penyakit Menular Jepang (JAID) karena kebiasaan warga Jepang yang mencari hiburan malam seperti pub, klub dan lainnya.

INDONESIA
Mr.Tambyah juga memprediksi Indonesia akan terkena gelombang kedua Covid-19 mengingat peningkatan jumlah kasus harian.

Saat ini Indonesia berada di urutan ke-25, sementara 2 bulan yang lalu masih diurutan 33-37, dengan jumlah kasus 84.800 orang, penambahan sebanyak 1.700 kasus. Meninggal 4.016 orang dan sembuh 43.200 orang.

Kesulitan lain adalah faktor Geografi dan Ketersediaan fasilitas Test, Tracing dan Treatment yang tidak sama pada 34 Provinsi dan 514 Kabupaten/Kota.
Tampak pergeseran puncak (Epicentrum) penambahan jumlah kasus yang dinamis antar kota antar wilayah.

CEGAH GELOMBANG KEDUA COVID-19 DI INDONESIA

Mengikuti analisa Mr.Paul A Tambyah, bahwa sasaran gelombang kedua adalah negara dengan penambahan kasus dan transmisi lokal yang terus meningkat setiap harinya dan mencapai ratusan bahkan ribuan.

Buat Indonesia, penambahan kasus adalah by design, artinya memang kebutuhan dalam upaya case finding melalui test secara massif dan selektif sesuai pemetaan sasaran hasil surveilans epidemiologi.

Badan Intelijen Negara (BIN) awal April 2020 yang lalu memprediksi bahwa pada akhir Juli 2020 bisa mencapai 106.278 kasus (WEonline.co.id). Angka ini sempat dipaparkan Ketua Gugus Tugas Letjen TNI Doni Monardo pada RDP dengan Komisi IX DPR RI pada 2 April 2020.

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan untuk melakukan test massif dan selektif. Masif maknanya tentu kuantitatif dalam jumlah besar dan luas. Sedangkan selektif dimaksudkan agar tepat sasaran. Saat ini test yang dilakukan masih dalam ratio 4.300 persejuta penduduk (0,004), termasuk paling kecil dibanding banyak negara lain.

Sementara itu jika dilihat efektifitasnya dari 1,2 juta test menemukan 84.800 kasus, artinya efektif 7 %, atau dari 100 test temukan 7 kasus.

Dengan pendekatan selektiv berbasis surveilans epidemiologi, efektifitas sasaran Test akan meningkat dan kasus bertambah lebih cepat dan menemukan jalan untuk menghentikan sebaran virus.

UPAYA CEGAH TRANSMISI COVID-19

Masalah utama kita adalah pada transmisi lokal (Community Spreads).
Artinya masalah utama kita pada sebaran virus Covid-19 ditengah masyarakat.

Melihat kondisi dilapangan, tampaknya pelonggaran PSBB dan kemudian disebut sebagai era New Normal, dikhawatirkan bisa mengundang transmisi luas dan massif virus Covid-19.

Satu-satunya solusi, kembali pertimbangkan Pembatasan Sosial Berskala Besar plus penegakan disiplin (ini bahasa hukum yang didalamnya ada sanksi) untuk melaksanakan Protokol Kesehatan.

Protokol Kesehatan sejalan Permenkes No.328/2020 :

1.Menjaga Kebersihan tangan dengan selalu Cuci Tangan Pakai Sabun

2.Menggunakan masker ketika keluar rumah

3.Menjaga jarak dan menghindari kerumunan

4.Menjaga Kesehatan dengan asupan bergizi dan Olahraga

5.Tetaplah di rumah dan tetap semangat

Penulis: Dr.Abidin/ GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua Harian MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Ketua Orbinda PP IKAL Lemhannas.

Heboh Anji Tulis Covid-19 dengan 'CVD', Dokter Jantung Beri Peringatan Ini

Halaman: