logo


Komunitas BBB: Sudah Saatnya Kita Memandang Sampah Punya Nilai Guna

Komunitas ini ingin menciptakan masyarakat yang lebih sadar akan sampah.

9 April 2015 10:08 WIB

Komunitas Berkat Bagi Bumi
Komunitas Berkat Bagi Bumi

YOGYAKARTA, JITUNEWS.COM - Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Sudah saatnya kita memandang sampah punya nilai guna dan manfaat. Sama halnya yang dilakukan oleh para anggota Berkat Bagi Bumi (BBB) di Yogyakarta.

BBB merupakan sebuah forum yang terdiri dari beberapa komunitas pecinta lingkungan, yaitu FOKAL, Gemah Ripah, Kopi Liar, Shalink, HUB, dan Angon. Dari beberapa komunitas ini bergabung menjadi satu yang konsepnya memang bekerja di bidang lingkungan.

“Awalnya BBB arti dalam lingkungan adalah Bahan Berbahaya dan Beracun. Namun, di sini kami membentuk BBB yang berbeda, BBB yang arahnya positif. Apa yang dilakukan bisa menjadi upeti bagi bumi yang nantinya pada masa tua lebih baik dan sehat,” terang Jamaluddin, ketua BBB.


Gak Punya Kebun buat Salurkan Hobi? Yuk Gabung Komunitas Ini...

Selama ini beberapa komunitas tersebut membentuk sebuah kelompok kecil yang bidangnya berkaitan dengan lingkungan. Ya, enam komunits itu cenderung lebih pada peduli terhadap lingkungan. Bukan hanya teori saja, tetapi sudah banyak yang mereka lakukan untuk mendukung kegiatan peduli lingkungan itu.

Sejauh ini program BBB sendiri baru ke sebuah gerakan ijolan sampah. Namun, jauh sebelum itu komunitas ini selalu bergerak dalam hal apapun yang berkaitan dengan lingkungan. Terutama hal yang sangat dihindari oleh masyarakat, tak lain adalah sampah.

Jamaluddin mengatakan, terbentuknya BBB awalnya dari enam orang saja mempunyai ide untuk membentuk forum yang lebih besar dari sebelumnya. Dari keenam kepala ini kemudian bergabung menjadi satu membuat komunitas besar yang cinta akan lingkungan. “Tagline kami juga penyemangat kami, obat awet muda untuk bumi yang renta. Ya, kita inginkan akan kesadaran masyarakat terhadap sampah dan lingkungan,” ujarnya.

Forum ini antusias kepedulian terhadap persoalan lingkungan hidup telah diwujudkan. Saat ijolan sampah, ibu beserta anaknya yang menjadi anggota ini menampilkan aksinya dengan bernyanyi. Uniknya saat mereka tampil memakai kostum yang olahannya dari sampah plastik dan sejenisnya dengan modifikasi sesuai kreatifitas anak-anak.

“Dulu awal kita membentuk komunitas ini enggak cukup bersihin sampah saja, tetapi juga mengelola, mengolahnya menjadi sebuah barang yang memiliki nilai. Tempat pembuangan sampah di Yogyakarta ini kan sudah menumpuk sekali. Jadi, ya inisiatif kami saja, bagaimana caranya sampah itu tidak berakhir di tempat pembuangan sampah (TPS), melainkan menjadi barang yang bermanfaat,” paparnya.

Komunitas ini ingin menciptakan masyarakat yang lebih sadar akan sampah. Bagaimana caranya orang-orang itu lebih hidup dengan adanya sampah. Sebenarnya sedini mungkin semua sampah itu bisa dipilah-pilah sesuai kategorinya. Bahkan setiap rumah itu kalau bisa memiliki tempat sampah yang sudah dibedakan jenisnya. Misalnya saja, organik dan anorganik atau yang basah dan yang kering.

Dilihat dari beberapa gabungan komunitas, contoh saja komunitas sepeda, ini lebih membawa spirit seseorang ketika menggunakan sepeda. Untuk pedagang, ketika masih bisa menggunakan plastik, kenapa tidak?

Yuk Intip Serunya Kegiatan Penggemar Si Kumis...

Halaman: 
Penulis : Hartati, Hasballah