logo


Infodemik di Tengah Pandemi Covid-19 Bisa Menjadi Lebih Berbahaya

COVID-19 dipandang sebagai krisis yang disebabkan oleh membanjirnya informasi media dan juga media sosial

13 Juli 2020 19:36 WIB

Direktur Utama RSU Menteng Mitra Afia & Founder PT. Enmedicare International, Enrico Adhitya Rinaldi.
Direktur Utama RSU Menteng Mitra Afia & Founder PT. Enmedicare International, Enrico Adhitya Rinaldi. Dok. Univ Sahid Jakarta

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menanggapi pandemi COVID-19 yang sampai sekarang sedang melanda dunia, termasuk Indonesia, Universitas Sahid, Jakarta, lewat program pascasarjana: Doktor Ilmu Komunikasi & Magister Ilmu Komunikasi menyelenggarkan open house Webinar 2020, bertajuk 'Health Communication Challenges the New Normal Era'.

Webinar menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi dan praktisi kesehatan. Dari akademisi tampil sebagai pembicara Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Pinckey Triputra dan Dosen Program Pascasarjana LSPR, Syafiq Basri Assegaff. Dari praktisi kesehatan hadir sebagai pembicara Kepala Departemen Paru RSUD Pasar Minggu, Sri Dhuny Atas Asri dan Direktur Utama RSU Menteng Mitra Afia & Founder PT. Enmedicare International, Enrico Adhitya Rinaldi.

Webinar resmi dibuka oleh Rektor Universitas Sahid, Kholil dan Direktur Pascasarjana Universitas Sahid, Marlinda Poernomo. Seminar dimoderatori oleh Henilia Yulita dan Endah Fantini.


Kasus Positif Bertambah 1.282, 9 Provinsi Tak Ada Penambahan Kasus

Melalui makalah yang berjudul 'Wabah Infodemik: Isu Komunikasi COVID-19', Pinckey menegaskan bahwa insan komunikasi harus bertanggung jawab membantu pengguna media digital agar menggunakan media secara bertanggung jawab, melakukan pengecekan, serta mempertimbangkan akurasi dari setiap berita.

Menurutnya, disinformasi dan tipuan digital menciptakan kebingungan dan ketidakpastian dalam masyarakat. Adanya penipuan digital untuk mendapatkan uang serta menimbulkan ketakutan dalam masyarakat.

Pinckey menyebut yang lebih berbahaya bukan pandeminya tapi infodemiknya.

"Semakin banyak media digital menciptakan hoaks, semakin sedikit media tersebut memiliki sentuhan kemanusiaannya," kata Pinckey, Sabtu (11/7).

Sementara itu, Syafig memandang COVID-19 sebagai krisis yang disebabkan oleh membanjirnya informasi media dan juga media sosial. Menurutnya, krisis harus ditangani secara bertanggung jawab.

Ia menyebut komunikasi memiliki peran yaitu mereduksi krisis informasi sehingga publik mendapat pencerahan. Di era keterbukaan informasi semua orang bisa menjadi produser/kreator informasi. Namun, tetap harus bertanggung jawab kepada kebenaran informasi yang dibutuhkan publik.

dr. Enrico dari RS Menteng Mitra Afia, menegaskan bahwa komunikasi kesehatan tidak lain dari model komunikasi yang peduli kepada kesehatan masyarakat. Menurutnya komunikasi kesehatan diperlukan untuk memahami pola penanganan kesehatan masyarakat dan sebagai panduan untuk bertindak melakukan sesuatu dalam masa pandemi ini. Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas dalam menghadapi pandemi ini.

Oleh karena itu, menurutnya, para praktisi komunikasi kesehatan harus sungguh memahami informasi dan layanan kesehatan secara bersama. Seperti para pembicara lainnya, Enrico menegaskan bahwa hoaks harus diperangi sehingga kebutuhan masyarakat akan informasi dan layanan kesehatan didapat secara seutuh.

Hal yang sama disampaikan oleh dr. Dhuny Asri, COVID-19 tidak hanya dilihat sebagai masalah kesehatan tapi juga masalah ekonomi. Kebutuhan manusia bisa saja bergeser dari kebutuhan kesehatan kepada kebutuhan fisik akan makanan, tidak peduli lagi kesehatan. Bukan pasien saja yang susah, rumah sakit juga susah. Tetapi secara prinsip rumah sakit tetap memiliki tanggung jawab melayani kesehatan masyarakat. Kebijakan New Normal menurut dr. Dhuny adalah upaya menyeimbangkan masalah kesehatan dan ekonomi menghadapi wabah COVID-19. Komunikasi menurutnya penting menghadapi COVID-19. Komunikasi kesehatan yang bersifat interpersonal menimbulkan kepuasan bagi para pasien menghadapi wabah virus corona.

Ketua PBNU: Covid-19 Ini Betul-betul Nyata, Bukan Konspirasi

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata
 
×
×