logo


Tak Ada Listrik dan Air, Krisis Ekonomi Lebanon Berada di Level yang Berbeda

Lebanon berada diambang kehancuran menyusul terjadinya krisis ekonomi yang diperparah dengan terjadinya pandemi Covid-19

11 Juli 2020 15:59 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi istimewa

BEIRUT, JITUNEWS.COM - Krisis ekonomi yang melanda Lebanon membuat negara tersebut diambang kehancuran. Salah seorang dokter terkemuka di sana, Firass Abiad, kepada Sky News mengatakan bahwa persediaan kebutuhan medis di seluruh rumah sakit yang ada di Lebanon kini hampir habis.

Ia menyebut kombinasi pandemi Covid-19 diatas krisis ekonomi yang tidak dapat diprediksi telah menciptakan sebuah 'badai yang sempurna'.

"Apa yang kami lihat adalah krisis setelah krisis," ujar Dr Firass Abiad, CEO salah satu rumah sakit di ibukota, Beirut, dikutip dari Sky News pada Sabtu (11/7).


PM Inggris Bakal Perketat Aturan Penggunaan Masker

"Setiap harinya, anda berlari dari sebuah kondisi kekurangan sumber daya (listrik) ke kondisi kurangnya persediaan kebutuhan medis, dan lain sebagainya. Kami mencoba untuk membatasi dampak dari kekurangan tersebut dengan tidak melakukan hal yang tidak esensial, namun pertanyaannya adalah sampai kapan kita akan melakukannya?" imbuhnya.

"Kami berada di tepian jurang...semua layanan yang kami berikan berada dalam situasi yang sangat kritis," kata Abiad.

Meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di negara tersebut bahkan membuat pasien lainnya kini tidak lagi bisa mendapatkan layanan kesehatan yang maksimal. Pemadaman listrik berkala dan menyusutnya suplai obat-obatan terjadi akibat inflasi ekonomi yang tak terkendali. 95 persen suplai kebutuhan medis diimpor dari luar negeri dan kini harganya jelas sangat tidak masuk akal.

Meskipun dunia internasional saat ini mengalami krisis perekonomian, dengan banyaknya jumlah pengangguran, namun krisis ekonomi yang melanda Lebanon berada pada tingakatan yang berbeda.

"Kami seakan berjalan di lorong yang sangat gelap dan tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Kami berharap ada secercah cahaya yang muncul. Kami tidak tahu," ujar Dr Nada Sbeiti, kepala pediatri di salah satu rumah sakit di Lebanon.

Pemadaman listrik yang bisa berlangsung lebih dari 20 jam setiap harinya membuat warga tidak bisa mendapatkan persediaan air yang cukup.

"Tidak ada air, tidak ada listrik," ujar salah satu warga, Ellias.

Ia dan keluarganya terpaksa berpindah rumah karena tidak lagi sanggup membayar harga sewa rumah sebelumnya.

"Saya tidak punya uang, dan tidak ada kerjaan," tambahnya.

"Kami makan apa saja yang tersedia. Apa lagi yang bisa kami katakan? Terimakasih, Tuhan," ujar Salwa, istri Ellias.

10 Juta Penduduk Yaman Kekurangan Pangan dan Terancam Wabah Kelaparan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia
 
×
×