logo


Pengamat Sebut PA 212 Tak Akan Jadi Parpol, Ini Alasannya

Hal ini dikarenakan, keanggotaan mereka yang masih terpusat di daerah-daerah yang prosentase muslim konservatifnya tinggi.

10 Juli 2020 16:42 WIB

Ilustrasi Aksi PA 212
Ilustrasi Aksi PA 212 Jitunews/Khairul Anwar

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Isu transformasi gerakan Persaudaraan Alumni (PA)212 menjadi partai politik mendapat sambutan baik dari sejumlah pihak. Salah satunya pengamat politik sekaligus Direktur Indonesia Political Review Ujang Komarudin.

Ujang menilai partai politik bisa menjadi wadah perjuangan yang tepat bagi PA 212.

"Jika ingin mendirikan parpol sah-sah saja. Bagus-bagus saja. Karena akan menjadi alat perjuangan bagi PA 212," kata Ujang, seperti dikutip dari Tagar pada Jumat (10/7).


PKS Desak Presiden dan DPR Cabut RUU HIP dari Prolegnas untuk Hentikan Kegaduhan Politik

Kendati begitu, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati punya pandangan lain. Ia justru menilai PA 212 tidak akan menjadi partai politik.

Wasisto memperkirakan PA 212 tetap konsisten berperan sebagai gerakan oposisi yang mendesak pemerintah.

"Saya pikir PA 212 ini kemungkinan akan masih berperan sebagai kelompok penekan daripada bertransformasi menjadi sebuah partai politik. Hal dikarenakan, keanggotaan mereka yang masih terpusat di daerah-daerah yang prosentase muslim konservatifnya tinggi," ujar Wasisto.

Seperti diketahui, Persaudaraan Alumni 212 merupakan sebutan dari mantan demonstran Aksi 212 atau Aksi Bela Islam yang menuntut Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok diadili lantaran melakukan penistaan agama.

Yang teranyar, PA 212 ikut memotori demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila atau RUU HIP di kompleks DPR/MPR, Jakarta, Rabu (24/6) lalu.

Tak Hanya Soal RUU HIP, FPI Sulteng Demo Tuntut Pemerintah Basmi Pergerakan PKI

Halaman: 
Penulis : Iskandar
 
×
×