logo


Minta Kemenkes Tinjau Ulang Rapid Test Berbayar, Ombudsman: Tidak Ada Gunanya!

Kemenkes tetapkan harga tertinggi rapid test sebesar Rp 150 Ribu

8 Juli 2020 05:30 WIB

Anggota Ombudsman RI Alvin Lie
Anggota Ombudsman RI Alvin Lie ombudsman RI

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Anggota Ombudsman RI, Alvien Lie meminta kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meninjau kembali tekait penetapan harga tertinggi rapid test sebesar RP 150 Ribu. Pasalnya, ia sering mendapat keluhan dari pihak rumah sakit yan membeli rapid test dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang ditentukan.

"Apakah uang dikembalikan atau bagaimana? Sebab, kelihatannya di beberapa daerah ini rumah sakit-rumah sakit tidak punya pilihan. Belinya dari orang-orang itu saja. Yang dikhawatirkan telah terjadi monopoli atau oligopoli," kata Alvin Lie seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (7/7/2020).

Alvien juga menyoroti persyaratan perjalanan udara dan kapal yang harus melampirkan surat hasil rapid test. Menurutnya, langkah tersebut tidak efektif untuk pencegahan penularan corona.


WHO: Tak Mungkin Lakukan Sosial Distancing dalam Pesawat Terbang

"Dengan adanya ini justru kita pertanyakan apakah masih relevan melakukan tes antibodi (rapid test) ini sebagai syarat bepergian bagi penumpang pesawat udara, kereta api, maupun kapal. Karena sebenarnya rapid test ini tidak ada gunanya untuk mencegah penularan Covid-19," ujarnya.

Menurutnya, dibanding masyarakat harus melakukan rapid test berbayar sebelum bepergian lebih baik protokol kesehatan Covid-19 lebih ditegakkan. Pasalnya, telah dikonfirmasi virus corona dapat menular dari droplet.

Jadi Acuan Rumah Sakit, Kemenkes Tetapkan Harga Rapid Test Tertinggi Rp 150 Ribu

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati
 
×
×