logo


Sejumlah Tentara Bayaran Milik Rusia Masuki Kawasan Tambang Minyak Libya

Perusahaan minyak milik pemerintah Libya (NOC) mengatakan bahwa sejumlah tentara asing diketahui telah memasuki wilayah tambang minyak mereka pada Kamis (25/6).

27 Juni 2020 15:30 WIB

Pengeboran minyak.
Pengeboran minyak. Pexels

TRIPOLI, JITUNEWS.COM - Perusahaan minyak milik pemerintah Libya (NOC) mengatakan bahwa sejumlah tentara bayaran dari Rusia dan negara lainnya telah memasuki wilayah tambang minyak mereka di Sharara pada Kamis (25/6). NOC juga menolak upaya sejumlah negara asing yang mencegah dimulainya kembali produksi minyak Libya.

Dilansir dari Reuters pada Sabtu (27/6), konvoi kendaraan tentara bayaran tersebut terlihat memasuki wilayah Sharara dan bertemu dengan sejumlah perwakilan pihak keamanan fasilitas Petroleum (PFG), sebuah pasukan yang dibentuk untuk menjaga keamanan di tambang minyak tersebut.

Libya secara efektif telah terpecah menjadi dua bagian pada 2015 lalu dimana separuh kawasan tambang minyak di sana dikuasai oleh pihak pemerintah (GNA) yang berbasis di Tripoli dan pihak tentara pembebasan Libya (LNA) yang didukung oleh Rusia, Mesir dan Uni Emirat Arab, yang berbasis di Benghazi.


Deklarasi Perang, Dua Roket Hamas Serang Israel

Sebagian besar tambang minyak dan fasilitas ekspor terletak di wilayah yang dikuasai oleh LNA, dimana menurut kesepakatan internasional, minyak tersebut hanya dapat diekspor oleh NOC, dengan pembayaran masuk ke rekening bank sentral di negara tersebut.

Seperti diketahui, Pihak pemerintah (GNA), yang mendapat dukungan dari Turki berhasil merebut sejumlah wilayah, termasuk sekitar Tripoli dan beberapa kawasan di barat Laut Libya dari tangan LNA.

Ekspor minyak Libya dihentikan pada Januari lalu oleh pihak LNA, sehingga memotong pemasukan utama GNA. Capaian GNA pada bulan Juni ini tentunya tidak disia-siakan oleh NOC untuk kembali memproduksi minyak di Sharara dan sejumlah tambang lainnya.

"Beberapa (negara) dengan sinis menyayangkan ketidakmampuan Libya dalam memproduksi minyak sementara di belakang, mereka sebenarnya mendukung pemblokiran tersebut," ujar Mustafa Sanalla, Kepala NOC.

Presiden Kolombia Sebut Kasus Covid-19 di Venezuela Ibarat Bom Waktu

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia