logo


APPI Berikan Bantuan Sembako Peringanan Hidup Pemulung di Masa Pandemi Covid-19

Penyerahan bantuan Sembako program CSR PT. Fajar Surya Wisesa Tbk dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada pemulung dan warga sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu. (APPI, 14/6/2020).

17 Juni 2020 12:41 WIB

Penyerahan bantuan Sembako program CSR PT. Fajar Surya Wisesa Tbk dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada pemulung dan warga sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu. (APPI, 14/6/2020).
Penyerahan bantuan Sembako program CSR PT. Fajar Surya Wisesa Tbk dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI pada pemulung dan warga sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu. (APPI, 14/6/2020). Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dan PT. Fajar Surya Wisesa Tbk menyalurkan Corporate Social Responsibility (CSR) ‘Bantuan Untuk Penanganan Covid-19’ kepada pemulung, buruh sektor persampahan dan warga sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu, Kota Bekasi.

Bantuan berupa sembako sebanyak 500 paket diserahkan langsung oleh Lim Chong Thian Vice Presiden PT. Fajar Surya Wisesa, Tbk kepada Bagong Suyoto Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat pada hari Jumat (A12/6/2020).

Dalam kegiatan ini juga diserahkan sebanyak 10 unit hand wash (alat cuci tangan) yang akan di tempatkan di sejumlah titik, yakni pemukiman warga dan pemulung serta sekolah (seperti Sekolah TK/PAUD Pelangi Semesta Alam, TK/PAUD dan MTs Al-Muhajirin, dll) di sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu.


Gak Punya Kebun buat Salurkan Hobi? Yuk Gabung Komunitas Ini...

Ketua Umum APPI, Bagong Suyoto mengatakan bantuan sembako ini merupakan bentuk kepedulian di masa pandemic Covid-19 kepada pemulung, pekerja sektor persampahan dan warga sekitar pembuangan sampah.

“Tujuan utamanya adalah ikut memperingan beban mereka di masa ekonomi sulit,” ujar Bagong di Jakarta, Rabu (17/6/2020).o

Menurutnya aktivitas berbagi ini hendaknya diikuti oleh corporate atau perusahaan lain, morning terutama di wilayah Bekasi Raya atau Jabodetabek. Sehingga terbentuk solidaritas dan gotong royong di masa sulit.

Dalam hal ini, Bagong mengungkapkan bahwa sebelumnya Ditjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) KLHK RI telah memberi bantuan sebanyak 500 paket APD kepada pemulung.

Setiap paket APD berisi sepatu boots, masker, sarung tangan, kaca mata dan topi. APD tersebut diserahkan pada Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) pada 18 Mei 2020.

“Bantuan APB ini merupakan bagian bantuan besar yang diserahkan KLHK kepada sejumlah komunitas dan lembaga, bank sampah, pemulung di seluruh Indonesia,” kata Bagong.

Menurutnya metode pendistribusian Sembako ini berdasarkan hasil mapping yang dibuat APPI bersama Komunitas Pemulung dan warga sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu. Sehingga terbangun titik-titik pendistribusian dan mengutamakan pemulung, warga miskin dan lansia yang bermukim jauh dari jalan raya.

“Mereka selama ini kurang diperhatikan dan bila ada pembagian Sembako terlupakan. Jadi, menyelusuri mereka yang belum atau baru sekali mendapat bantuan Sembako selama masa pandemic Covid-19. Agar terbentuk prinsip pemerataan dan keadilan,” tambahnya.

Bagong mengungkapkan sejak November 2019 sampai wabah Covid-19 menjalar pada Juni 2020 kehidupan social ekonomi pemulung dan pekerja sektor persampahan semakin sulit. Akibat dampak harga-harga pungutan sampah terjun bebas atau pindah harga, bahkan sejumlah barang tidak laku jual, seperti plastik lembaran dan plastik kresek.

“Contoh harga sampah gabrugan/capuran hanya Rp 500-600/kg dari Rp 1.000-1.200/kg, slopan dari Rp 1.000/kg terjun tinggal Rp 200/kg, plastik ember dari Rp 2.500/kg terjun hingga Rp 800-1.000/kg, PE/botol dan mainan dari Rp 4.500/kg terjun menjadi Rp 2.000/kg. Imbasnya, sejumlah pelapak, usaha pencacahan plastik dan pabrik daur ulang tutup.

Menurutnya para pemulung sebagai pelaku 3R (reduce, reuse, recyle) sampah sudah sewajarnya mendapatkan respon dan apresiasi sepantasnya dari pemerintah dan dunia usaha. Pasalnya peran pelaku 3R, yakni pemulung misalnya dapat mengurangi sekitar 20-25% sampah an-organik (seperti plastik, kertas, logam, beling, dll) di TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu.

“Atau jika setiap pemulung TPST Bantagerbang mampu mengais sampah rata-rata 150 kg x 6.000 pemulung/hari atau 900 ton/hari. Artinya pemulung mampu mengurangi sampah sebanyak 900 ton/hari. Jumlah timbulan sampah DKI Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang sekitar 7.500-7.800 ton/hari,” ungkapnya.

Bagong menambahkan bahwa APPI meminta pemerintah pusat dan dunia usaha agar senantiasa memperhatikan dan membantu pemulung, buruh sortir sampah, pekerja sektor persampahan dan warga sekitar pembuangan sampah ketika ekonomi sulit di masa pandemic Covid-19, terutama kecukupan pangan.

“KLHK secara bertahap merespon permintaan APPI dan komunitas pemulung. Selanjutnya, pasca-pademi Covid-19 supaya membantu dalam recovery dan pemberdayaan sosial ekonomi dengan dukungan kebijakan stabilitas harga, stimulan permodalan, teknologi dan pasar daur ulang guna perbaikan taraf hidupnya,” pungkasnya.

Yuk Intip Serunya Kegiatan Penggemar Si Kumis...

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar
 
×
×