logo


Mal Kembali Dibuka, Ahli Beri Peringatan: Bukan untuk Jalan-jalan!

Epidemiolog memberi saran agar tidak terjadi kluster baru di mall

16 Juni 2020 07:30 WIB

Gerai Payless di The Park Mall Solo.
Gerai Payless di The Park Mall Solo. dok. The Park Mall Solo

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Gubernur DKI Jakarta Anies Bawedan telah memberi izin untuk membuka kembali pusat perbelanjaan atau mal di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tranisisi. Mall telah dibuka sejak Senin (15/6/2020) dengan sejumlah protokol kesehatan Covid-19.

Menanggapi hal tersebut, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman memberi sejumlah saran kepada pemerintah daerah agar tidak terjadi kluster baru penularan virus corona. Pasalnya, mall berpotensi sebagai tempat penyebaran corona dengan adanya kerumunan orang.

"Ini kan yang harus dihindari prinsipnya adalah menghindari keramaian," kata Dicky seperti dilansir CNNIndonesia.com, Sabtu (13/6/2020).


Kasus Positif Tambah 1.017, 11 Provinsi Tidak Ada Penambahan Kasus

Dicky meminta pihak pengelola mal memastikan tidak ada penumpukan orang di waktu yang sama, seperti di parkiran umum. Selain itu, setiap orang bisa mengambil tempat 4 meter persegi sebagai jaga jarak yang ideal.

"Sederhananya, kalau luas bangunan mal itu katakanlah 100 meter, berarti isinya kan 20 (pengunjung)," ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat pergi ke mall hanya untuk memenuhi keperluan dasar. Oleh karenya, masyarakat yang tidak memiliki kepentingan mendesak tidak perlu ke mall.

"Memastikan masyarakat tahu bahwa ke mal itu bukan buat shopping atau jalan-jalan dalam situasi pandemi ini. Harus dibedakan, ke mall itu hanya untuk membeli kebutuhan yang urgent, mendasar," jelasnya.

Lebih lanjut, Dicky menyarankan agar pembukaan mall dilakukan secara bertahap berdasarkan jenis kebutuhannya. Menurutnya gerai yang dibuka terlebih dahulu adalah yang bersifat esensial seperti tempat makan, supermarket, gerai baju, dan gerai yang menyediakan kebutuhan dasar lainnya. Sementara untuk gerai yang bersifat nonesensial seperti bioskop dan salon dapat dibuka setelah pihak pengelola mall melakukan evaluasi secara bertahap.

Soal New Normal, Moeldoko: Kalau Back to Normal Repot Kita Semuanya

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati
 
×
×