logo


Isterinya Dipaksa Vonis PDP, Keluarga Kecewa: Ini Skenario Anggaran Semata

Warga Bulukumba dimakamkan ala jenazah Covid-19, padahal hasil swab negatif

4 Juni 2020 11:18 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Rasa kecewa dialami oleh keluarga yang tinggal di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pasalnya, jenazah seorang wanita bernama Nurhayani Abrar dimakamkan sesuai protokol penangan Covid-19 sementara hasil swab menunjukan negatif. Keluarga mengatakan bahwa Nurhayani meninggal karena penyakit stroke.

Andi Baso yang merupakan suami Nurhayani meminta jenazah istrinya dimakamkan di pemakaman keluarga, namun dari pihak rumah sakit tetap bersikeras untuk dimakamkan di pemakaman khusus Covid-19. Baso menilai kekhawatiran pemerintah terlau berlebihan, padahal sudah jelas-jelas hasil swabnya negatif.

"Saya memaklumi ketakutan pemerintah terhadap pandemi Covid-19. Cuma kalau ketakutan itu tidak benar kepada salah satu pasien, apa tindakan mereka? Tidak ada," kata Andi Baso saat dihubungi melalui sambungan telepon seperti dilansir MakasaarTerkini, Selasa (2/6/2020).


Minta Masyarakat Waspada, Pemerintah: Belum Semua Kasus Positif Bisa Dikonfirmasi

Andi mengatakan bahwa istrinya dipaksakan vonis PDP karena ketakuan pemerintah semata. Ia menilai bahwa protokol Covid-19 menimbulkan pernyataan soal anggaran.

"Karena protokol Covid-19 menimbulkan konsekuensi anggaran. Sekarang sudah ada hasil swab, dan hasilnya negatif," ujarnya.

Andi menilai bahwa pemerintah tidak siap dalam penanganan corona.  Pasalnya, saat istrinya divonis PDP ia dan anak-anaknya yang sering kontak dengannya tidak kunjung dites Swab. Selain itu penguburan jenazah istrinya juga dinilai tidak manusiawi.

"Tidak ada rasa prihatin, mereka tim gugus langsung pulang saja. Harusnya mereka berpikir keluarganya harus diisolasi," ujarnya.

Andi juga menilai bahwa peristiwa kematian isterinya hanya digunakan sebagai mata pencaharian saja. "Biar bukan penyakit Covid-19 dipaksakan untuk memvonis PDP, atau positif Covid-19. Ada apa sebenarnya di balik semua ini, kecurigaan saya mulai terbukti kalau semua ini hanya skenario untuk anggaran semata," jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa dalam SK Kementerian, satu malam pasien PDP di rumah sakit dibebankan sampai Rp 16.500.000. Sementara satu pasien yang menjalani isolasi penuh di rumah sakit dibebankan sampai 320 juta.

Imbas Demo George Floyd, Ahli Bedah Khawatir Muncul Gelombang Dua Corona di AS

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex