logo


Bung Karno dan Pancasila

Jiwa gotong royong Bung Karno yang akan menghantarkan bangsa Indonesia pada kemenangan yang sejati.

31 Mei 2020 09:32 WIB

Bung Karno berpidato
Bung Karno berpidato Republika

Memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni, pasti mengingatkan kita akan pidato Bung Karno 1 Juni tahun 1945 di hari ketiga, hari terakhir sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), di gedung yang kini disebut gedung Proklamasi, di Pejambon, Jakarta. Sidang yang secara khusus hendak merumuskan dasar-dasar negara Indonesia yang hendak didirikan dan memerdekan diri dari kolonialisme penjajahan.

Pidato Bung Karno 1 Juni di atas sungguh dahsyat dan bertenaga dari sisi filsafat kebangsaan dan kristalisasi nilai nilai luhur Nusantara. Itulah titik dasar pandangan ditetapkannya 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila sebagaimana secara yuridis di tanda tangani presiden Joko Widodo tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 tahun 2016 tentang penetapan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila dan menjadi salah satu hari libur resmi nasional.

Dalam pidato 1 Juni 1945 di atas, Bung Karno panjang lebar dan mendalam dengan kutipan referensi pandangan para ideolog dunia dan kuatnya pemahamannya tentang khazanah nilai nilai luhur Nusantara serta pandangannya tentang Islam yang progresif mengingatkan para hadirin peserta sidang representasi kelompok Islam dan kebangsaan dari berbagai suku bangsa seraya menyimpulkan bahwa negara yang akan kita dirikan bukanlah negara bangsa ala tradisi barat, bukan negara agama dan bukan negara suku bangsa.


Samakan Jokowi dan Bung Karno, Pengamat: Sama-sama Wacana

Negara yang akan kita dirikan bersama adalah negara atas dasar Pancasila, demikian lanjut pidato Bung Karno disertai gemuruh tepuk tangan seluruh peserta sidang BPUPKI, seraya menjelaskan bahwa nama Pancasila sebagaimana diakui sendiri oleh Bung Karno atas saran ahli bahasa untuk menekankan pentingnya lima prinsip dasar ideologi bangsa yang dicita-citakan bersama. Pancasila inilah dasar kita berpijak menuju masa depan kehidupan berbangsa yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan.

Pandangan dasar Pancasila dalam pidato Bung Karno di atas saripatinya memiliki titik sambung dalam tarikan napas kebangsaan yang sama dengan doktrin Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di Indonesia, berdiri sembilan belas tahun sebelum Indonesia merdeka, yakni doktrin "tawasut, tasamuh, tawazun dan i'tidal" atau prinsip moderat, toleran, berimbang dan berkeadilan.

Dengan kata lain, Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia yang digali Bung Karno dari khazanah nilai-nilai luhur Nusantara adalah ideologi yang ditegakkan tidak berorientasi ke blok barat dan blok timur melainkan berdiri tegak lurus dalam prinsip ketuhanan dan kemanusiaan di atas nilai luhur bangsa, yakni moderasi, toleransi, keseimbangan dan keadilan bagi seluruh tumpah darah Indonesia dan melindungi seluruh bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Di sinilah urgensi kita memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni tahun ini, tahun 2020 di tengah tarikan tantangan makin menguatnya politik Islam identitas di satu pihak dan makin terpinggirkannya jiwa gotong royong di pihak lain tergerus arus kapitalisme global yang nyaris menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Maka, membumikan ide-ide besar Bung Karno yang tertuang dalam pidato 1 Juni tentang Pancasila bukan saja penting untuk menjaga martabat kebangsaan kita yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan, lebih dari itu, di tengah kita berperang melawan wabah Covid-19, hanya jiwa gotong royong Bung Karno lah yang akan menghantarkan kita pada kemenangan yang sejati. Inilah salah satu makna terpenting dari memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni tahun 2020.

Selamat hari lahir Pancasila 1 Juni. Semoga teriakan kita NKRI harga mati adalah bagian dari tarikan napas kita untuk membumikan Pancasila, hadiah terbesar pikiran Bung Karno untuk seluruh bangsa Indonesia. Amin.

Penulis: Kader muda Nahdlatul Ulama (NU), Husni Mubarok

Samakan Jokowi dengan Bung Karno, Eks PA 212 Bilang, "Pemimpin Fenomenal"

Halaman: 
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex