•  

logo


Ini Dia 3 Jenis Nanas Unggulan Indonesia

Tanaman nanas termasuk tanaman buah yang tahan penyakit

2 April 2015 16:03 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Nanas merupakan salah satu komoditi buah unggulan Indonesia yang banyak digemari masyarakat lokal maupun luar negeri karena memiliki rasa asam manis yang khas. Dulu nanas hanya dijadikan tanaman pekarangan di setiap rumah, namun semenjak zaman Belanda nanas mulai dikebunkan. (Baca juga Menikmati Indahnya Perkebunan Buah Nanas di Subang)

Menurut Herbagijandono, mantan peneliti di Lab. Teknologi Pasca Panen, Balai Penelitian Hortikultura Lembang, nanas-nanas di Indonesia digolongkan dalam dua kelompok utama berdasarkan duri daun, yaitu berduri dan tidak berduri. Nanas yang daunnya tidak berduri termasuk varietas Cayenne. Sedangkan Queen dan Spanish mewakili kelompok nanas dengan daun berduri. Queen dibagi dua lagi, yakni berdaun tipis dan tebal. Sedangkan nanas Spanish buahnya ada yang berbentuk kerucut dan ada yang silindris.

Cayenne. Daun nanas ini tidak berduri. Rasanya manis asam. Diameter buah 11-16 cm dengan bobot 1,8-2,3 kg. Bahkan ada yang mencapai 5-7 kg yang dikenal dengan nama Walungka atau Sarawak. Kandungan airnya cukup tinggi, dan empulur (hatinya) relatif kecil. ‘Mata’nya pun tidak dalam. Karena ukuran dan rasanya, nanas ini paling cocok dikalengkan. Selain kelebihan itu, ada juga kekurangannya. Perubahan warna kulitnya agak lambat, sehingga kadang buah sudah matang tapi kulitnya masih hijau.


Bali Bakal Menggelar Festival Manggis, Catat Tanggal Mainnya Ya!

Varietas Cayenne dikenal di beberapa daerah di Indonesia dengan nama berbeda. Seperti Cayennelis (Palembang dan Salatiga). Suka Menanti (Bukit Tinggi), Serawak (Tanjung Pinang dan Pacitan), Bogor (Pontianak, Probolinggo, dan Purbalingga), dan Paung (Palangkaraya). Namun hanya di Subang pertumbuhan Cayenne amat baik sehingga sebutan nanas Subang seolah identik dengan nanas Cayenne. (Baca juga Yuk, Budidaya Nanas Subang!)

Queen. Untuk dihidangkan sebagai buah meja, nanas inilah primadonanya. Bagaimana tidak. Rasanya manis, aromanya harum, dan warna kulitnya menarik, kuning cerah dan kemerahan. Bobotnya sekitar 1 kg. Bentuk buah cenderung memanjang Empulur buah cukup lunak sehingga dapat dimakan. Kekurangannya, ukuran buah kecil, dan matanya agak dalam sehingga banyak daging buah yang terbuang ketika dikupas.

Varietas Queen yang paling dikenal ialah nanas dari Bogor (gati, kapas, dan kiara), nanas Palembang, serta batu dari Kediri. Daerah lain yang dijumpai varietas ini adalah : Pontianak (nanas cina), Palangkaraya (nanas betawi), Purwokerto (nanas batu), Kediri (nanas bali/jawa), Jember (monserat dan bali), Bondowoso (kidang dan uling), Sumenep (durian), dan Salatiga (nanas bogor).

Spanish. Meskipun waktu matang rasanya manis dan aromanya tajam menyenangkan, namun varietas ini kurang disukai, karena berserat. Ia banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kertas dan tekstil. Kertas uang dolar Amerika dibuat dari serat nanas ini yang diambil dari daunnya. Bobot buahnya 0,9-1,8 kg, jadi antara Cayenne dan Queen diameternya 9-13 cm. ‘Mata’nya cukup dalam sehingga daging buah banyak terbuang ketika dikupas. Daunnya berduri, sedangkan kulit buahnya kasar dan kuat sehingga buah tidak mudah rusak dalam pengangkutan. Jenis ini banyak ditanam sebagai tanaman hias karena warna buahnya cukup menarik, merah oranye berkat zat antosianin.

Dari varietas ini yang banyak dikenal ialah nanas merah dan hijau (Bondowoso), rakyat merah dan rakyat hijau (Purwokerto). Nanas ini pun ditemui di Bukit Tinggi (yang disebut gadut), Bali (madu dan kebo), Pontianak (towon, biasa, barak, tembaga, dan emas), Palangkaraya (bubur), Sukamere (kampung), Bangkalan (maduh, ragunan, kerbau), Kediri (jawa) Bondowoso (kuning), Sumenep (lomot), Kendal (sukun dan kaliwungu).

Semua nanas yang disebutkan di atas telah dikoleksi oleh Herbagijandono di kebunnya di Jalan Cagak, Subang. Namun sebenarnya masih banyak kultivar lain yang ada di Indonesia, seperti nanas berabai (Lombok), nanas nunggal, nanas mandalung, nanas klacen, nanas jepang, nanas tembaga, nanas konde, nanas klayatan, dan nanas minyak.

Budidaya. Nanas bisa dibudidayakan di mana saja mulai dari ketinggian 0-1.000 m dpl (di atas permukaan laut) dengan suhu 23-32 °C pada jenis tanah apapun pada pH 4,5-6,5 (derajat keasaman tanah). Baik pada daerah yang beriklim basah maupun kering, karena tanaman ini memiliki perakaran yang dangkal. Jarak tanam yang bisa digunakan beragam, mulai dari 30 x 30 cm, 60 x 60 cm, 1 x 1 m dan 1m x 50 cm. Semakin rapat jarak tanam, maka ukuran buah yang dihasilkan semakin kecil. “Ada baiknya kebun yang ditanami nanas memiliki drainase (saluran pembuangan air) agar tidak terjadi genangan air pada area kebun nanas. Untuk penyiraman, karena tanaman buah ini tahan kering maka tidak perlu disiram setiap hari, misalnya cukup seminggu 2 kali atau seminggu sekali,” jelas Dr. Ir. Sobir, M.Si, Kepala PKBT (Pusat Kajian Buah-buahan Tropika) IPB.

Tanaman nanas termasuk tanaman buah yang tahan penyakit, tetapi ada dua penyakit yang paling mengganggu dalam budidaya bahkan menghancurkan kebun, yakni penyakit layu mealibu (gabungan virus dan kutu putih) yang ditandai terdapatnya kutu putih, daun menguning, tanaman layu, mata buah menonjol dan ukuran buah menjadi kecil-kecil. Penyakit ini terjadi pada musim kemarau dan untuk pencegahannya usahakan memilih bibit yang tidak ada kutu putihnya, atau berikan akarisida (pestisida yang berfungsi membunuh atau mengusir tungau/kutu) pada bibit. Selanjutnya penyakit layu phytophtora yang menyerang pada musim hujan. Serangan ini ditandai dengan daun yang tiba-tiba layu meski berwarna hijau karena pangkal daun terkena phytophtora. Sama halnya dengan layu mealibu, sebaiknya pilih bibit yang sehat dan jika terlanjur terserang maka tanaman harus dibuang jauh-jauh.

Menurut Ilyas, teknisi Pengolahan Nanas Terpadu Dinas Pertanian Kab. Subang dari Dinas Pertanian Kabupaten Subang, bibit yang bagus untuk perbanyakan nanas, yakni dari mahkota (bagian tunas bunga) yang sudah berumur 14-16 bulan. Meskipun baru bisa berbuah pertama kali setelah 24 bulan, bibit dari mahkota akan menghasilkan tanaman yang lebih seragam, waktu panen serentak, bentuk buah sempurna silindris, memberikan hasil buah yang lebih seragam baik tinggi, berat, warna, kadar air, kadar gula dan kadar asam yang seragam. Kebutuhan bibit untuk kebun nanas di awal  budidaya untuk luas 1 ha, yakni 40 ribu pohon, selanjutnya akan terus meningkat tiap tengah tahun sebanyak 20 ribu bibit (selama 5 tahun tidak perlu dilakukan pergantian bibit, karena bibit bisa dimanfaatkan dari anakan. Bila anakan itu dibiarkan tumbuh, maka jumlah tanaman yang ada bertambah sekitar 20 ribu tanaman).

Baca juga Gati, Nanas Mungil Super Manis Asal Bogor

Ini Penyebab Sayuran Organik Berbentuk ‘Tak Sempurna’

Halaman: 
Penulis : Riana