logo


Menilik Pengaplikasian Teknologi 3D Printing dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

3D saat ini adalah kata kunci dalam pembuatan perangkat medis

19 Mei 2020 15:45 WIB

Di masa pandemi, teknologi 3D Printing dapat diaplikasian secara luas
Di masa pandemi, teknologi 3D Printing dapat diaplikasian secara luas
dibaca 380 x

Dalam beberapa tahun terakhir muncul teknologi terbaru 3D printing, proses menciptakan objek fisik dari model digital. Teknologi 3D Printing ini dapat diaplikasikan secara luas, mulai dari organ hingga jaringan manusia, implan prostetik, sendi buatan, transplantasi, bone scaffolding, sel hidup, hingga bioprinting. Seiring dengan berkembangnya teknologi, penelitian dan pengembangan terkait pun semakin bertambah maju.

“3D printing” saat ini adalah kata kunci dalam pembuatan perangkat medis. Terlebih saat situasi pandemi virus Corona (Covid-19) seperti saat ini, ada produsen di berbagai negara menggunakan teknologi mereka sendiri untuk melakukan “3D printing” dalam menyediakan pasokan untuk menghadapi pandemi, seperti ventilator dan katup ekspirasinya, serta masker pelindung untuk mendukung permintaan mendesak di lini depan medis.

Selain itu, ada model 3D pasien terinfeksi Corona yang sedang dicetak yang dapat digunakan dalam banyak cara terutama untuk memfasilitasi model perbandingan antara Corona dan SARS. Hal tersebut menawarkan analisis entitas yang lebih intuitif di kalangan medis, terutama menyangkut studi penyakit menular secara keseluruhan.


Hadapi Covid-19, Fenomena PSBB RI & #IndonesiaTerserah Disorot Media Asing

Menurut Young Optics, salah satu pemenang Taiwan Excellence Gold Awards 2020 untuk produk Digi-optical 3D Printer, teknologi 3D printing menggabungkan banyak bahan dan aplikasi. Dapat disesuaikan untuk pasien individu maupun untuk produksi secara massal dengan fleksibilitas tinggi.

Dalam perawatan gigi saja, biayanya lebih rendah dan lebih ringan daripada metode kedokteran gigi tradisional dan presisi keseluruhannya jauh lebih tinggi daripada pemodelan buatan tradisional atau implan gigi. Oleh karena itu, produk-produk teknologi 3D printing sekarang secara umum dapat ditemukan di bidang material gigi dan aplikasi bedah gigi.

Director of Strategic Marketing Department TAITRA (Taiwan External Trade Development Council), Chun-Tse Wu, mengatakan bahwa permintaan pasokan medis mengalami peningkatan tajam di masa pandemi Corona yang terjadi secara global saat ini.

“Produsen tidak dapat mengatasi permintaan besar untuk barang-barang seperti ventilator, PPE, dan masker bedah, karenanya produsen perangkat medis beralih ke industri lain untuk memenuhi persyaratan ini. Teknologi 3D printing pun hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut” ujar Chun-Tse Wu, Selasa (19/5).

Menurutnya, keunggulan kompetitif teknologi 3D printing meliputi penyesuaian dan berbagai pilihan produksi, baik jumlah kecil maupun kebutuhan produksi massal. Selain itu, kata Chun-Tse Wu, bahan-bahan yang digunakan menawarkan biokompatibilitas dan bebas racun.

"Aplikasinya untuk biomedis dan organ manusia pun lebih aman dan kurang berisiko dibandingkan dengan jenis bahan lainnya, dan telah menjadi kekuatan yang hadir untuk menghadapi pandemi saat ini," tuturnya.

Meski memiliki beberapa keunggulan, Chun-Tse Wu menuturkan, terdapat beberapa kekhawatiran global terkait pengaplikasian teknologi 3D printing untuk kebutuhan perangkat medis, seperti ventilator dan katup, yang melibatkan pelanggaran desain paten atau hak kekayaan intelektual pabrikan komponen asli.

“Peraturan yang relevan untuk pembuatan, ekspor, dan penjualan perangkat medis sangat rumit. Selain itu, kualitas dan kebersihan produk yang dicetak juga merupakan prioritas utama penerapan lintas disiplin untuk produsen di Taiwan," pungkasnya.

Ditulis oleh: Wiyarni Sulthani

*Tulisan ini adalah 'Suara Kita' kiriman dari pembaca. Jitunews.com tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Cegah Penyelewengan, Jokowi Minta Penyaluran Bansos Diawasi KPK

Halaman: 
Admin : Aurora Denata