logo


Dijuluki 'Crazy Rich Surabaya', Ini Trik Peluang Usaha dari Tom Liwafa

Empati adalah marketing terbaik

11 Mei 2020 09:55 WIB

Tom Liwafa
Tom Liwafa Instagram

SURABAYA, JITUNEWS.COM - Pengusaha Surabaya, Tom Liwafa tengah menarik perhatian publik lantaran kegemarannya melakukan aksi sosial. Belum lama ini, ia kembali membagikan donasi kepada warga di jalanan Surabaya.

Dalam video yang diunggah di akun instagram resminya, ia tampak membagikan kardus berisi mie dan uang lembaran Rp 100 ribu, serta beras yang telah disiapkan sejak jam 1 pagi.

Aksi Tom Liwafa tersebut kini tak hanya dilakukan pada malam hari, tetapi juga pada pagi hari. Ia mengatakan bahwa aksi berbagi merupakan hal yang indah.


Ibu Rumah Tangga Bisa Hasilkan Banyak Uang? Berikut Ide Bisnis yang Cocok

"Berbagi itu indah. Ketika berbagi tak perlu berpikir apa yang kita peroleh, biarkan Allah menentukan mana yang terbaik buat kita, dari Tom Liwafa, mantan orang susah,” tulis Tom melalui Instagramnya, @tomliwafa.

Tom berharap aksi donasinya tersebut dapat menular ke siapa saja. Sehingga dunia senantiasa diliputi hal kebaikan.

Sebelum aksi donasinya tersebut jadi pembicaraan, Tom rupaya sempat menjadi sorotan. Lulusan sarjana desain produk ini diketahui telah membeli mobil mewah milik Atta Halilintar.

Bisnis Sejak Kuliah

Tom Liwafa merupakan salah satu pengusaha asal Surabaya yang dijuluki ‘crazy rich surabaya’. Suami dari Delta Hesti Chandra ini memulai bisnis sejak kuliah. Ia mengawalinya dengan berdagang stiker band, baju dan kaos serta barang second pada 2008 silam.

"Dagang mulai 2008, jual stiker distro, barang second, coba-coba awalnya saja apa yang cocok. Kemudian setelah selesai kuliah bingung mau ngapain dan sambil dagang,” kata Tom, seperti dikutip dari liputan6, Senin (11/5).

Jalankan Usaha Bersama Sang Istri

Pada 2010, ayah dari dua anak ini merambah bisnis sepatu dan tas bersama istrinya. Ia mengembangkan Handmadeshoesby & Delvationstore. Alasannya memilih bisnis ritel sepatu dan tas adalah karakter perempuan yang dinilai suka berganti tas dan sepatu.

Selain itu, Tom mengungkapkan sudah mengembangkan bisnis lewat online sejak 2010. Jalur daring ini dipilih seiring kesukaannya terhadap bacaan dan desain. "Dulu 2010 pengguna media sosial tidak seperti sekarang. Saya sudah mulai lewat online,” ujar dia.

Tom memproduksi tas di Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan dan Surabaya. Latar belakang keluarga yang punya bisnis sablon tas tampaknya menurun kepada Tom. Namun, ia memulai bisnis dari usahanya sendiri.

Selain tas dan sepatu, Tom juga mengembangkan bisnis food and beverage (F&B) yang telah berjalan selama dua tahun di Surabaya, Jawa Timur.

Tom mengungkapkan, selalu ada tantangan dan kendala yang mesti dihadapi selama menjalankan usaha. Mulai dari restu orangtua, kompetitor atau pesaing dan diri sendiri.

Ia mengaku berusaha keras meyakinkan orang tua agar merestuinya menjalankan bisnis. "Caranya dengan berkomunikasi. Misalkan ketika mood orangtua sedang bagus, dibicarakan dan diberikan keyakinan,” jelasnya.

Pria kelahiran tahun 1990 ini menyatakan ada tahapan dalam menjalankan bisnis untuk kemudian bisa menjadi besar. Salah satunya saat berhadapan dengan kompetitor, terlebih jika pesaing lebih dulu menekuni bisnis tersebut.

Meski begitu, Tom punya cara tersendiri untuk menghadapinya. Ia mencontohkan dengan menampilkan keunggulan bisnis dan produk seperti memberikan ongkos kirim gratis.

"Atau pelayanan kita lebih cepat, produk kita lebih bervariasi, dan atau produk kita bisa bayar di tempat,” tutur dia.

Selain itu, ia juga mengingatkan perlunya memiliki seseorang yang positif di sekitar. Menurutnya, rahasia kunci suksesnya adalah kerja keras, disiplin dan aktif berkecimpung di komunitas bisnis.

“Saya dari dulu kalau mengerjakan sesuatu akan selalu menyelesaikan, ada tanggung jawab,” imbuhnya.

Empati adalah Marketing Terbaik

Mengenai peluang usaha di tengah pandemi COVID-19 ini, Tom menilai empati adalah salah satu marketing terbaik. Dengan demikian, orang lain juga akan tertarik dengan usaha yang dijalankan melalui aksi nyata.

“Menjadi pengusaha tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga orang lain. Marketing terbaik adalah empati buat orang percaya mengenai pengusaha sejati. Follower akan mau tahu perusahaannya,” jelas Tom.

Dia tak memungkiri jika kondisi pandemi corona berdampak buruk terhadap sektor usaha. Terlebih dirinya selaku pengusaha tas dan sepatu.

Tom berusaha bertahan dengan mengalihkan produksi usaha. Hal ini dilakukan agar karyawannya terhindar dari pemutusan hubungan kerja atau PHK.

"Akhirnya membuat baju hazmat, masker nonmedis. Tak ingin karyawan dirumahkan, sehingga mereka tetap ada kegiatan,” ujarnya.

Ia mengaku menjual murah barang-barang tersebut sehingga memungkinkan digunakan untuk berdonasi. Tak hanya usaha tas dan sepatu, bisnis kuliner juga terkena imbas Covid-19.

Namun, Tom menuturkan bahwa kini memilih untuk mengoptimalkan layanan online bisnis kuliner. Apalagi saat diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Jawa Timur.

“Kuliner tetap buka tetapi tidak makan di tempat. Jadi online, sekarang PSBB,” kata Tom.

Ia berpandangan jika belanja online meningkat drastis usai adanya anjuran beraktivitas dari rumah. Hal ini ia juga dialami sektor usaha pakaian. “Sekarang semua online.”

Tom mengimbuhkan, strategi adaptif saat ini perlu diterapkan untuk bertahan. Adaptif yang dimaksud adalah bagaimana respons seseorang untuk menghadapi secara langsung.

"Kalau adaptasi itu sifatnya masih menyesuaikan. Sedangkan adaptif responsnya langsung,” terang dia

Ia mencontohkan, salah satu usaha temannya yang bergerak di bidang tur and travel beralih ke usaha lain.

Bagi Tom, peluang terbesar saat ini ialah menjual barang yang permintaannya sedang tinggi. Misal bertepatan bulan Ramadan, mukena dan sajadah bisa menjadi peluang usaha.

"Selain itu, masker kain terutama yang fashionable karena ini new era untuk pakai masker. Nanti ada topi sendiri. Kemudian jual daster karena sekarang kerja dari rumah, frozen food, minuman jamu,” jelasnya.

Catat! 4 Ide Bisnis Simple yang Profitable, Cuma Modal Rp 500 Ribu

Halaman: 
Penulis : Iskandar