logo


Rizal Ramli Beri Peringatan Sinyal Tanda Bahaya Krisis Pangan Benar Terjadi.

Krisis pangan akibat pandemi virus corona (Covid-19) menghantui dunia

9 Mei 2020 18:28 WIB

Rizal Ramli
Rizal Ramli Doc Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Krisis pangan akibat pandemi virus corona (Covid-19) menghantui dunia, termasuk Indonesia. Kebijakan social distancing dan pembatasan akses lainnya memicu golongan menengah ke atas melakukan panic buying sementara rantai suplai semakin berkurang.

Ekonom Senior Rizal Ramli mengatakan bahwa persoalan pasokan pangan harus menjadi perhatian serius Pemerintah RI guna menekan dampak button social distance.

Saat ini, di luar panic buying, permintaan pasokan bahan pangan naik mencapai 10 persen. Sementara suplai berkurang hingga 25 persen. Sebagai contoh, Vietnam dan Thailand. Negara eksportir komoditas pangan tersebut sudah memutuskan mengurangi ekspor.


Pelelangan 'Nakal' BUMN Jadi Penyebab Harga Gula Meroket di Tengah Pandemi Corona

"Karena mereka ingin ngasih makan rakyatnya yang menganggur," ungkap Rizal Ramli melalui keterangan tertulisnya, Jumat (8/5/2020).

Ia mencontohkan Rusia, sebagai salah satu negara penghasil gandum terbesar di dunia. Biasanya Rusia mengekspor lebih dari 20 juta ton gandum, namun sekarang dibatasi maksimal 7 ton.

Rizal mengingatkan sebuah sinyal tanda bahaya jika krisis pangan benar-benar terjadi. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Indonesia era Gus Dur tersebut meminta agar Presiden Joko Widodo segera melakukan peningkatan produksi pangan.

Rizal mengatakan bahwa masa panen sayur-sayuran hanya butuh waktu 2 bulan, jagung 3 bulan, bawang 3 bulan dan beras 4 bulan. Sehingga krisis ini bisa dimanfaatkan untuk betul-betul all out meningkatkan produksi pangan.

"Nanti setahun lagi bawang putih kita sudah 4 kali panen cukup, kita bahkan bisa ekspor. Saya dengar Pak Jokowi senang dengan ide ini. Dia mau agar kita fokus pada pangan," pungkas Rizal Ramli.

PKS: Program JPS Banyak Sengkarutnya

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata