logo


Pekerjaan Rumah Sektor Pendidikan di Tengah Pandemi Covid-19

Pendidikan menjadi salah satu sektor yang terdampak dari ganasnya virus ini.

20 April 2020 19:46 WIB

Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus), Marsekal Muda Dr. Agus Sudarya
Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus), Marsekal Muda Dr. Agus Sudarya ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Korban Covid-19 di Indonesia semakin banyak. Tercatat dari sejak pertama kali Presiden Joko Widodo mengumumkan pasien kesatu pada awal Maret lalu, saat ini terdapat 6.760 kasus positif yang ditemukan.

Entah kapan pandemi ini akan berakhir. Yang pasti dunia saat ini sedang menunggu vaksin dan obat dari virus asal Wuhan, China, tersebut agar segera ditemukan dan diproduksi masal.

Pendidikan menjadi salah satu sektor yang terdampak dari ganasnya virus ini. Pemerintah telah memutuskan untuk membatalkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dan memaksa metode pembelajaran berubah menjadi jarak jauh.


Potong Anggaran Belanjanya Tahun 2016, Kemristekdikti Alokasikan untuk Tambah Beasiswa

Rektor Universitas Islam Nusantara (Uninus), Marsekal Muda Dr. Agus Sudarya mengatakan, dunia pendidikan tidak boleh hanya meratapi bencana ini, namun harus mampu beradaptasi di tengah ketidakpastian akhir pandemi.

Saat ini, sektor pendidikan khususnya di level dasar dan menengah memang gagap melaksanakan sistem pembelajaran di tengah perubahan yang begitu cepat. Era ini memaksa siswa, mahasiswa, guru, dan dosen untuk memahami teknologi begitu cepat.

"Ini PR kita bersama bahwa SDM kita belum begitu siap dalam memanfaatkan teknologi," ujar Agus Sudarya kepada Jitunews.com, Senin (20/4).

Namun, imbuh Agus, perubahan ini juga bisa menjadi dasar kemajuan sektor pendidikan begitu wabah ini berakhir. Elemen pendidikan mulai dari siswa hingga dosen akan terbiasa dengan metode pembelajaran jarak jauh yang berbasis teknologi.

"Mari kita sambut era baru di dunia pendidikan. Kita ambil pelajaran yang posisitif usai dunia kembali normal. Itu bisa kita sebut sebagai 'new normal'," pungkas Agus.

Kampus Merdeka

Covid-19 juga bisa dijadikan momentum untuk menggaungkan kembali program Kampus Merdeka sebagaimana yang telah dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim.

Menurut Agus yang meraih gelar Magister Pertahanan di National Defence University Korea Selatan ini, saat ini memang Indonesia masih belum siap menyongsong Kampus Merdeka. Bukan kenapa, tapi lantaran Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia masih tertinggal.

"Karena keterbelakangan SDM kita tidak mengerti tentang Kampus Merdeka. Padahal saat saya sekolah di NDU Korea Selatan tahun 2010 sampai dengan 2011, istilah tersebut sudah berkembang di Korea Selatan. Di mana SDM Generasi muda Korea selalu 10 tahun ke depan. Kenapa? Karena SDM di Korea sangat sadar bahwa teknologi (IT) sangat penting dan dominan berkembang di dunia," jelas Agus.

Agus menegaskan, jalinan kerja sama dengan berbagai pihak akan terus dikembangkan oleh Uninus, untuk mengaplikasikan kebijakan Kampus Merdeka. Dalam kebijakan Kampus Merdeka, mahasiswa berhak belajar di luar kampus selama dua semester dan belajar silang program studi selama satu semester.

Oleh karena itu, Uninus menganggap perlu jalinan kerjasama dengan berbagai pihak, khususnya dalam sektor industri.

Agus memaparkan, dalam Kampus Merdeka, sangat perlunya kolaborasi antara universitas dengan pers. Karena mau tidak mau, SDM yang efektif dan efisien memanfaatkan media sebagai "bridge to Online Study planning ahead for Efective and Efisiency".

Tak lupa Agus berharap agar bencana wabah yang melanda dunia ini segera berakhir. Manusia bisa menjalani aktivitasnya tanpa khawatir lagi.

"Semoga Covid 19 segera menghilang dari bumi nusantara ini sehingga SDM generasi 4.0 bisa segera berlari mengatasi ketertinggalan dalam bidang pendidikan yang berbasis IT," kata Agus mengakhiri.

Tingkatkan Produktivitas Masyarakat, Menristekdikti Terus Kembangkan Teknologi Berbasis Digital

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan
 
×
×