logo


2 Bulan Terombang-ambing di Samudra, 400 Pengungsi Rohingya Berhasil Diselamatkan

"Fokus utama kami saat ini adalah soal kesehatan dan pertolongan awal para pengungsi tersebut. Sejumlah LSM saat ini juga tengah menyediakan bantuan dan kebutuhan pokok kepada mereka," kata Jubir Kemenlu Bangladesh

19 April 2020 10:29 WIB

Ilustrasi kapal yang digunakan oleh pengungsi Rohingya
Ilustrasi kapal yang digunakan oleh pengungsi Rohingya CNN

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Setidaknya 400 pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di lautan selama hampir dua bulan setelah keluar dari Bangladesh berhasil diselamatkan pada Rabu (15/4). Penjaga pantai Bangladesh mengatakan bahwa 32 orang dari pengungsi tersebut meninggal saat masih berada di lautan.

Kelompok pengungsi yang sebagian besar terdiri dari kaum wanita dan anak-anak tersebut berupaya untuk berlayar ke wilayah Malaysia dengan menggunakan kapal penangkap ikan pada pertengahan bulan Februari 2020 silam.

Para pengungsi tersebut memberitahukan kepada penjaga pantai bahwa 32 orang dari kelompok tersebut yang telah meninggal dunia, dan jenazahnya terpaksa dibuang ke laut.


Filipina Kemungkinan Perpanjang Lockdown hingga Vaksin Covid-19 Tersedia

"Mereka meninggal dunia karena beberapa hal, yakni kekurangan makanan dan penyakit lain," kata juru bicara penjaga pantai Bangladesh, Hamidul Islam dikutip dari CNN.com pada Minggu (19/4).

Ia menjelaskan bahwa saat berhasil memasuki wilayah perairan Malaysia, kelompok pengungsi etnis Rohingya tersebut mendapat penolakan dari otoritas Malaysia sehingga terpaksa berbalik arah menuju Myanmar. Namun, setelah berhasil mencapai Myanmar, mereka kembali dipukul mundur oleh Angkatan Laut Myanmar sehingga terombang-ambing tak jelas di lautan lepas sampai pihak Penjaga Pantai Bangladesh melakukan upaya penyelamatan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Bangladesh menyebut sebagian besar dari pengungsi yang mengalami kelaparan dan dehidrasi tersebut saat ini menjalani masa karantina selama 14 hari untuk mencegah terjadinya penularan virus Corona Covid-19.

"Kami sangat memahami kondisi para pengungsi yang terombang-ambing di lautan luas selama dua bulan. Banyak dari mereka yang mengalami malnutrisi dan dehidrasi," ungkapnya.

"Fokus utama kami saat ini adalah soal kesehatan dan pertolongan awal para pengungsi tersebut. Sejumlah LSM saat ini juga tengah menyediakan bantuan dan kebutuhan pokok kepada mereka," imbuhnya.

Salahkan China atas Wabah Covid-19, Trump: Ada Konsekuensi yang Harus Mereka Bayar

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia