logo


Covid-19: Antara Ekonomi, Anarkisme, dan Politik Negara

Adjeng menilai situasi ini bisa lebih buruk lagi bila pandemi tak kunjung berhenti.

18 April 2020 14:58 WIB

Ilustrasi Rupiah melemah
Ilustrasi Rupiah melemah faktapers

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kondisi ekonomi semakin terhimpit seiring tak kunjung redanya pandemi Covid-19. Jakarta sebagai episentrum wabah Covid-19 di Indonesia telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diikuti oleh kota penyangga lain.

Banyak orang kini mulai mudik ke kampung halaman lantaran sudah tak bisa lagi menjalankan usahanya atau terkena PHK. Bukan juga salah mereka, tapi memang keadaan yang memaksa mereka memilih pulang ke kampung halaman.

Fenomena ini menurut mantan Anggota DPR RI, Adjeng Ratna Suminar seperti buah simalakama. Mereka kehilangan penghasilan di Jakarta namun bila mudik menjadi ancaman bagi warga asal. Pasalnya belum tentu dia tidak membawa penyakit ketika pulang ke kampung halaman.


Awal Tahun 2019, Peneliti China Pernah Prediksi Adanya Wabah Virus Corona Jenis Baru

Adjeng menilai situasi ini bisa lebih buruk lagi bila pandemi tak kunjung berhenti. Adjeng berharap komunitas dunia agar segera menemukan vaksin dan obat Covid-19.

Adjeng menjelaskan, situasi ekonomi harus terus dipantau perkembangannya. Tim ekonomi pemerintah memang sudah bekerja baik tapi masih ada yang perlu diperbaiki lagi. Beberapa kebijakan sudah diluncurkan seperti pemberikan stimulus kepada para pelaku usaha, keringanan utang bank, bantuan sembako pada masyarakat terdampak, atau Kartu Prakerja.

"Persoalan ekonomi juga bisa menjadi cikal bakal anarkisme. Jangan sampai krisis kesehatan yang dilanjutkan dengan krisis ekonomi ini kemudian berkembang menjadi krisis keamanan," ujar Adjeng di Jakarta, Sabtu (18/4).

Adjeng yang juga Ketua Ikatan Alumni Lemhanas PPRA ke-41 ini mengatakan, pemerintah harus melakukan segala upaya untuk menjaga ketertiban, memberikan rasa aman kepada masyarakat. Apalagi isu soal keamanan mulai berhembus belakangan setelah sejumlah narapidana dibebaskan.

"Kita memiliki pengalaman di tahun 1998, itu tak boleh terjadi lagi. Ini penting untuk kita sadari agar situasi keamanan di dalam negeri tetap kondusif di tengah pandemi," pungkas Adjeng.

Badan Intelijen Negara (BIN) juga perlu bergerak atau mungkin juga sudah bergerak untuk memantau keadaan. Jangan sampai ada penunggang gelap, oknum-oknum yang ingin memanfaatkan situasi menjadi chaos dan berkembang ke krisis politik.

Melihat Negara Lain Mengelola Krisis Covid-19

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan