logo


Awal Tahun 2019, Peneliti China Pernah Prediksi Adanya Wabah Virus Corona Jenis Baru

"Sehingga, investigasi terkait hal tersebut sangat penting dilakukan untuk mendeteksi dan pencegahan yang dapat meminimalisir dampak wabah selanjutnya di China," kata peneliti

18 April 2020 12:14 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Seorang peneliti yang bekerja pada sebuah laboratorium di Wuhan, China, pernah memprediksi akan terjadinya wabah virus Corona pada 2019 silam.

Dilansir dari The Sun pada Sabtu (18/4), peneliti wanita bernama Shi Zhengli tersebut mengungkapkan bahwa ia dan rekannya yang saat itu masih menjadi mahasiswa di Institut Virologi Wuhan mendesak segera dilakukan penelitian dan penyelidikan terhadap sebuah virus yang ditemukan pada kelelawar.

Prediksi tersebut ia cantumkan kedalam laporan risetnya yang ia serahkan kepada sejumlah direktur institusi pada Januari 2019, dan dipublis oleh MDPI melalui sebuah jurnal.


Miris, Petugas Medis Inggris Diminta Gunakan Apron Berbahan Plastik karena Baju APD Langka

Di dalam artikel yang ia buat tersebut, ia dan tim peneliti menekankan pada kemungkinan terjadinya wabah coronavirus di China dengan melakukan analisa terhadap tiga wabah berskala besar yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan Swine Acute Diarrhea Syndrome (SADS).

Dikatakan ketiga patogen tersebut semuanya berjenis virus Corona yang ditemukan pada hewan kelelawar, dimana kedua patogen tersebut yakni SARS dan SADS diketahui muncul di China.

Para peneliti waktu itu pernah berkata bahwa "Sehingga, kemungkinan besar wabah yang diakibatkan oleh virus SARS dan MERS jenis baru ditularkan melalui kelelawar, dan kemungkinan besar akan terjadi di China."

"Sehingga, investigasi terkait hal tersebut sangat penting dilakukan untuk mendeteksi dan pencegahan yang dapat meminimalisir dampak wabah selanjutnya di China," jelasnya.

Para peneliti juga mengungkapkan bahwa luas wilayah, jumlah populasi dan keberagaman etnis di China dapat mendorong potensi penyebaran wabah, terlebih adanya kebiasaan dan tradisi di sana dalam mengkonsumsi daging mentah.

"Budaya makan di China menganggap bahwa daging mentah memiliki lebih banyak kandungan nutrisi dan apa yang mereka yakini tersebut mampu memicu perpindahan virus," tulis laporan penelitian tersebut.

 

PM Jepang Minta Dunia Internasional Bantu WHO

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia