logo


RI Marak Penyemprotan Disinfektan di Jalan, WHO: Sebuah Gambaran Konyol

WHO menilai penyemprotan jalanan dengan disinfektan bisa berisiko merugikan kesehatan masyarakat, membuang waktu, dan menghamburkan sumber daya

7 April 2020 15:48 WIB

Penyemprotan Disinfektan di Jalanan
Penyemprotan Disinfektan di Jalanan kompas.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Pandemi corona atau Covid-19 telah masuk ke Indonesia sejak awal tahun lalu. Beragam ikhtiar pun dilakukan demi terhindar dari penularan virus tersebut, salah satunya menyemprot jalanan dengan disinfektan.

Kegiatan itu diketahui sedang marak dilakukan di sejumlah daerah. Kendati begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru menyebut tindakan tersebut sebagai cara yang konyol.

Tak cuma Indonesia, penyemprotan disinfektan di jalanan dan lingkungan luar ruangan juga dilakukan oleh negara lain seperti India, Meksiko, hingga Turki.


Kurva Kasus Covid-19 di New York Mendatar, Apakah AS Berada di Puncak Pandemi?

Dilansir dari DW News, Kepala Jaringan Wabah dan Tanggap Darurat Global WHO, Dale Fisher menegaskan jika pihaknya tidak pernah menyarankan penyemprotan jalanan dengan disinfektan.

"Mungkin itu adalah citra masyarakat yang kita anggap serius, saya tidak tahu. Yang jelas, itu adalah hal yang tidak kami rekomendasikan. Kami tidak percaya orang-orang tertular virus dari permukaan tanah," kata Fisher menanggapi fenomena penyemprotan disinfektan di jalan, seperti diunggah DW News di akun YouTube, Kamis (2/4).

Fisher menyebut penggalakan kegiatan cuci tangan dengan sabun adalah upaya paling tepat alih-alih menyemprot jalanan dengan disinfektan mengandung klorin.

"Saya lebih melihat orang-orang mencuci tangan dan menjaga jarak, hal seperti itulah yang merupakan aksi tanggap masyarakat terhadap virus, bukan menyemprotkan klorin di mana-mana," ujarnya.

Fisher, sebagaimana dikutip dari Reuters, menganggap langkah penyemprotan jalanan dengan disinfektan bisa berisiko merugikan kesehatan masyarakat, membuang waktu, dan menghamburkan sumber daya.

"Itu adalah sebuah gambaran konyol di banyak negara," tegas Fisher, Selasa (31/3).

"Saya tidak percaya itu bisa berkontribusi apapun untuk merespons (Covid-19) dan bisa beracun bagi masyarakat. Virus itu tidak akan bertahan lama di lingkungan dan orang-orang pada umumnya juga tidak menyentuh permukaan," imbuh ahli penyakit menular itu.

Pemerintah Tetapkan Status PSBB di DKI Jakarta, Saleh Harap Bisa Memutus Mata Rantai Covid-19

Halaman: 
Penulis : Iskandar