logo


Ancam Kesehatan Warga, KPNas Desak Pengelolaan Limbah Corona

Pemulung lebih rentan terpapar Covid-19

29 Maret 2020 18:16 WIB

Ilustrasi Kota Terkotor / Sampah
Ilustrasi Kota Terkotor / Sampah tirto.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) Bagong Sutoyo mengungkapkan kondisi pemulung di Indonesia yang sangat rentan terpapar Covid-19. Selain pendapatan yang menurun karena hasil pungutan berkurang, pemulung tinggal di gubuk-gubuk kumuh dan tercemar. Apalagi dus, masker dan bekas limbah rumah sakit Covid-19 mengancam kehidupan mereka.

“Masalah lain, bagaimana pengelolaan limbah infeksius (limbah B3) dan sampah rumah tangga dari penanganan Covid-19? Apakah mengikuti peraturan perundangan, panduan dan standar prosedur resmi dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan?” tanya Bagong kepada Rakyat Meredeka, Jumat (27/3/2020).

Ia mengungkapkan bahwa limbah infeksius atau medis dari penanganan Covid-19 diserahkan pihak ketiga. Kemudian sisa sortirannya dibuang di sembarang tempat. Padahal menurut peraturan, limbah medis harus dimusnahkan dengan suhu insenerator.


Terus Melonjak, Total Pasien Positif Corona Jadi 1.285

Selain limbah medis, limbah rumah tangga juga mengancam kesehatan pemulung. Sampah rumah tangga dikumpulkan dari rumah ke rumah, kemudian diangkut ke Tempat Pembungan Akhir (TPA). Di TPA, pemulung mengais sampah tanpa menggunakan masker ataupun sarung tangan, mereka tidak memikirkan bahaya Covid-19 yang dipikirkannya bagaimana bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebetuhan hidup.

Lebih memprihatinkan, TPA-TPA di Jakarta berdekatan dengan sarana pendidikan anak usia dini dan rumah warga. Setiap hari tempat pengolahan sampah tersebut mengeluarkan asap hitam pekat menyebar ke pemukiman warga. Padahal menurut peraturan perundangan, jarak TPA sampai 300 meter tidak boleh ada rumah penduduk, sarana pendidikan, sarana ibadah, jalan raya/umum, kali/sungai, dan lain-lain.

Bagong mendesak, penyimpanan limbah infeksius dalam kemasan yang tertutup paling lama 2 (dua) hari sejak dihasilkan. Kemudian dimusnahkan melalui fasilitas incinerator dengan suhu pembakaran minimal 800 derajat celcius. Selain itu, residu hasil pembakaran dikemas dan diserahkan kepada pengelola Limbah B3.

“Harus ada kerja sama yang kuat antara Kementerian Kesehatan dengan Kementerian LHK dengan dukungan Mabes Polri dan TNI,’’ tegas Bagong.

Belum Genap 1 Tahun, Bayi Ini Meninggal Dunia Karena Positif Corona

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati