logo


AS Gunakan Jutaan Telur Ayam untuk Vaksin Flu, Bisakah untuk Vaksin Corona?

AS menyimpan jutaan ayam di peternakan rahasia

29 Maret 2020 14:45 WIB

Ilustrasi - Time Magazine
Ilustrasi - Time Magazine

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Amerika Serikat tengah memproduksi telur-telur ayam untuk dijadikan vaksin flu. Namun peternakan ayam yang menghasilkan telur tersebut bersifat rahasia. Peternakan ayam dijaga dengan sistem keamanan yang didanai jutaan dolar oleh pemerintah AS.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan ada sekitar 174,5 juta dosis vaksin flu yang disitribusikan di seluruh AS hingga akhir Februari, dengan perkiraan 82 persen berbasis telur. Setiap telur menghasilkan satu vaksin, sehingga total AS telah menggunakan 140 juta telur.

Para ilmuwan mengatakan bahwa telur tidak hanya dimanfaatkan untuk vaskin flu saja, namun juga untuk penyakit lain. Akan tetapi telur tidak bisa digunakakan untuk membuat vaksin virus corona yang saat ini tengah mewabah.


Korban Covid-19 Semakin Banyak, Gubernur New York Punya Opsi Gunakan Ventilator Manual

Profesor Patologi klinis Universitas Hong Kong, John Nicholis mengatakan  coronavirus novel (Covid-19) tidak dapat mereplikasi di dalam telur seperti virus flu.

Menurut WHO saat ini tengah dikembangkan vaksin corona. Lebih dari 20 vaksin coronavirus potensial menggunakan berbagai teknologi non-telur.
Beberapa di antaranya adalah vaksin mRNA, yang mengarahkan sel-sel dalam tubuh untuk membuat protein untuk mencegah atau melawan penyakit dengan menggunakan messenger ribonucleic acid, sebuah molekul penting untuk berfungsinya sel-sel tubuh dengan baik. Yang lain menggunakan teknologi DNA rekombinan, yang menghasilkan kecocokan genetik yang tepat dengan protein virus, dan kemudian dapat dengan cepat menghasilkan sejumlah besar antigen.

Pejabat kesehatan memperingatkan akan diperlukan setidaknya satu tahun sebelum vaksin coronavirus terbukti efektif dan mendapatkan persetujuan yang diperlukan untuk distribusi luas. Biasanya, uji klinis dibagi menjadi dua fase. Fase 1, yang melibatkan beberapa  orang, akan berlangsung sekitar tiga bulan. Fase 2, yang melibatkan ratusan orang, akan berlangsung enam hingga delapan bulan lagi.

Setidaknya satu percobaan vaksin coronavirus fase 1 kini telah dimulai; studi AS memberi dosis kepada peserta pertama pada 17 Maret. Lebih dari enam minggu, setiap peserta akan menerima dua suntikan sekitar satu bulan terpisah dalam berbagai dosis, untuk mencoba memastikan bahwa vaksin itu aman dan menginduksi tanggapan yang diinginkan dari kekebalan peserta.

Meski demikian, Kepala Ilmu Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Hongkong, Leo Poon mengatakan bahwa masih banyak yang tidak mengetahui tentang virus corona, oleh karena itu akan banyak kesempatan untuk menemukan banyak hal dalam pengembangan vaksin corona.

"Itu sebabnya saya katakan saya menghargai keberagaman. Kamu tidak pernah tahu yang mana yang akan bekerja, berbahaya untuk menaruh semua telur dalam satu keranjang," kata Poon seperti dilansir CNN, Jumat (27/3/2020).

Jabar Gunakan Drive Thru Tes Corona, Bagaimana yang Tak Punya Kendaraan?

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati